January 2, 2008
Keberadaan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sejauh ini memiliki kontribusi yang besar bagi tugas-tugas pemerintah dalam pematangan kehidupan demokrasi, dalam melaksanakan fungsi control dan pendampingan. Meskipun terkadang direspon secara “negative” oleh pemerintah, tapi pada dasarnya ia sangat bermanfaat sebagai alat control. Yang mereka lakukan juga untuk kebaikan bangsa dan pemerintah Indonesia
sendiri, bukan membawa misi dan kepentingan Negara lain.
LSM bisa menjadi mitra konstruktif bagi pemerintah apabila mereka melakukan kontribusi yang konstruktif juga. Ia bisa menjadi alat koreksi yang efektif bagi kebijakan publik yang menyimpang. Ia bisa menjadi alat penekan apabila pemerintah keluar dari garis yang dikehendaki rakyat. LSM bisa menghalangi terjadinya kekuasaan tersebut. Ia juga bisa masuk ke wilayah manapun juga apabila ada gap antara kebijakan dan implementasi di lapangan.
Di sisi lain, juga banyak LSM yang menjadi masalah, karena tidak jelasnya tujuan, komitmen dan cara-cara yang dilakukan. Yang wajib dipertanyakan bangsa ini adalah bila ada LSM di negeri ini yang buta terhadap keindonesiaan. Tidak peduli pada kepentingan bangsa. Tidak peduli pada rasa kebangsaan dan lebih meletakkan dirinya sebagai perpanjangan kepentingan asing. Asing di sini, bisa lembaga internasional, bisa Negara lain, atau organisasi apa daja. Ini bisa mengganggu ekstensi bangsa Indonesia secara utuh. Sebagai contoh Read the rest of this entry »
1 Comment |
Politik |
Permalink
Posted by Kafka_pizechust
December 30, 2007

Judul : Manusia Bugis /Penulis : Christian Pelras /Penerbit : Nalar, Jakarta /Tahun : Februari, 2006 /Halaman : xxxxiv + 450 hlm
Oleh : Muhammad Ridwan Alimuddin
“Dari mana nenek-moyang orang Sulawesi Selatan berasal? … jika anggapan Mills benar bahwa lokasi pertama yang ditempati para pendatang adalah sekitar muara Sungai Saddang, maka kemungkinan besar asalnya dari Kalimantan Timur, yakni sekitar Kutei-Samarinda, atau dari bagian tenggara Kalimantan, yakni sekitar Pegatan-Pulau Laut (belakangan, pada kedua wilayah itu terdapat perkampungan bugis. Mungkin tanpa disadari, mereka sebenarnya telah kembali ke tempat asal nenek-moyang mereka) …”
Demikian Christian Pelras, menulis salah satu tesis tentang asal nenek moyang orang Bugis di Sulawesi Selatan, di dalam bukunya Manusia Bugis (Nalar, 2006 hal. 45, terjemahan dari The Bugis, 1996). Tesis ini sudah lama dikemukakan oleh seorang ahli bahasa, Roger F. Mills, yaitu pada tahun 1975, namun bagi masyarakat umum di Indonesia pendapat ini mungkin masih baru.
Selain baru, juga menarik sebab pemahaman yang ada adalah orang Bugis (termasuk suku-suku lain di Sulawesi Selatan dan Barat) yang ada di Kalimantan Timur dewasa ini berasal dari pulau Sulawesi dari proses gelombang migrasi yang hampir terjadi sepanjang tahun, meski itu hanya per individu. Dengan kata lain, “Mereka kembali ke asal”. Betulkah demikian? Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Books |
Permalink
Posted by Kafka_pizechust
December 27, 2007
Policy Innovation for Political Reform in Indonesia
“30 % Quota for Women’s Representation in Parliament”
|
Time Period/Parliament
|
Women- Representation |
Male-Representation |
-
1950 – 1955 (Temporary DPR) 9 (3, 8%) 236 (96, 2%)
-
1955 - 1960 17 (6, 3%) 272 (93, 7%)
-
1956 – 1959 (Konstituante) 25 (5, 1%) 488 (94, 9%)
-
1971 – 1977 36 (6, 3%) 460 (92, 2%)
-
1977 – 1982 29 (6, 3%) 460 (93, 7%)
-
1982 – 1987 39 (8, 5%) 460 (91, 5%)
-
1987 – 1992 65 (13%) 500 (87%)
-
1992 – 1997 62 (12, 5%) 500 (87, 5%)
-
1999- 2004 (Post-Suharto) 46 (9%) 500 (91%)
-
2004- 2009 (Quota 30%) 61 (11, 9 %) (slightly improvement) 489 (88, 7
More than 53% of the total population in Indonesia consists of women. However, since the 1999 legislative elections that marked Indonesia’s transition to democracy, women comprise only 9 percent of the national legislature (46 from 546 members), 6 percent of provincial assemblies and 4 percent of district assemblies. In addition, only few district executives, provincial governors or senior national government officials are women. Public campaigns, Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Gender |
Permalink
Posted by Kafka_pizechust
December 27, 2007

Pejuang Wanita di PAkistan : Benazir Bhutto Tewas
Saya siap untuk menanggung segala risiko. Tapi, saya tidak ingin menyerahkan negara kita yang besar ini kepada kelompok-kelompok militan, termasuk nyawanya terenggut, untuk memperbaiki demokrasi di Pakistan.”.
Itulah sedikit kata yang keluar dari lubuk hati paling dalam pejuang wanita di Pakistan Benazir Bhutto. Setelah terhindar dari ancaman bom pada Kamis 18 -10 – 2007 yang menewaskan 138 orang. Kejadian tersebut terjadi di Karachi ketika para pendukung Benasir Bhutto berkumpul untuk menyambut kedatangannya setelah 8 tahun berada dipengasingan. Serangan tersebut diduga dilakukan oleh kelompok militan, seperti Al-Qaeda dan Taliban
Namun pada Kamis 27 Desember 2007 , petang. Untuk kali ini Benazir tak dapat lagi terhindar dari ancaman selalu menghantuinya. Benasir tewas di tembak oleh Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
International |
Permalink
Posted by Kafka_pizechust
December 27, 2007

PIONEER FOR DEMOCRACY
“I HAD faith in myself. I had always felt that I could become Prime Minister if I Wanted”
Benazir Bhutto Date of birth: June 21, 1953
Date of death: December 27, 2007
Benazir Bhutto was born in Karachi, Pakistan to a prominent political family. At age 16 she left her homeland to study at Harvard’s Radcliffe College. After completing her undergraduate degree at Radcliffe she studied at England’s Oxford University, where she was awarded a second degree in 1977.
Later that year she returned to Pakistan where her father, Zulfikar Ali Bhutto, had been elected prime minister, but days after her arrival, the military seized power and her father was imprisoned. In 1979 he was hanged by the military government of Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
International |
Permalink
Posted by Kafka_pizechust
December 18, 2007

Not many people know what a hero Elie Wiesel is, or even who he is, but he is a hero nonetheless. He was born in the small, close-knit Jewish town of Siget, Transylvania (now what is called Romania) on September 30, 1928. He had three siblings, all sisters, was raised an extremely religious Hasidic Jew, and started his studies when he was a small child. His parents encouraged him with his Hebrew and religious studies as well as his secular studies.
Elie’s life changed tremendously in 1944, at the age of 15. At this time, the Nazis invaded his town and all of the Jews in the village were deported to concentration camps across Poland. He was separated from his mother and younger sister immediately and he has never seen them again. He managed to stay with his father for one year while they were worked nearly to death through starvation, exhaustion, cold weather with improper clothing, being shuttled in cattle cars, and being beaten regularly. But in the end, his father was murdered by the Nazis in Buchenwald. While living in France, years after his horrible experiences in Auschwitz, Bun, Buchenwald, and Gleiwitz, Elie learned that his two older sisters had survived.
In France, he studied philosophy and supported himself by becoming a choir master and teaching Hebrew. He also became a professional journalist. He did not talk about his war experiences for 10 years, and then he wrote a 900 page book called Un die welt hot geshvign (And the World Kept Silent). Later, Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
The My Hero |
Permalink
Posted by Kafka_pizechust
December 18, 2007
Aku pulang. Kulewati koridor dan kuberbalik memandangi semua. Halaman rumah ayahku. Ada genangan air di tengah halaman itu. Perkakas tua tak terpakai, bergeletakan membentuk jalan menuju tangga. Kucing bermalas-malasan di teras. Kain yang dirobek terikat di tiang, berkibar ditiup angin. Aku datang. Siapa yang akan menyambutku? Siapa yang menunggu di belakang pintu dapur? Asap keluar dari cerobong, kopi untuk makan malam sedang dimasak.
Tidakkah aneh untukmu, apakah kau merasa ada di rumah? Aku tidak tahu Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Poetry |
Permalink
Posted by Kafka_pizechust
December 18, 2007
Searle di dalam bukunya Speech Acts : An Essay in The Philosophy of Language (1969,23-4 ) mengemukakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang mungkin diwujudkan oleh seorang penutur di dalam berbahasa, yakni tindakan untuk mengungkapkan sesuatu (locutionary act), tindakan melakukan sesuatu (ilocutionary act), tindakan mempengaruhi lawan bicara (perlocutionary act). Secara berturut-turut ketiga jenis tindakan ini disebut sebagai the act of saying something, the act of doing something, dan the act of affecting someone. Ini hanyalah sebuah tulisan biasa, silahkan untuk mengkategorikannya :
Pergi tanpa mengilhami apa yang ada pada dirinya, hingga meninggalkan begitu banyak permasalahan pada semua orang yang pernah dekat dekatnya.
Mengakui kesalahan, itulah citra terbaik dalam kehidupan. Namun Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Poetry |
Permalink
Posted by Kafka_pizechust
December 18, 2007
Tak satu pun lentera menyala saat aku membaca/ selintas suara bergumam, “segala sesuatu jatuh ke dalam kebekuan yang mencekam”/ bahkan melon atau pir dari taman tak berdaun. Sebait puisi karya penyair Wallace Stevens itu mengingatkan kita untuk selalu eling lan waspodo/ makatutu, ingat dan sadar, pada segurat keheningan yang senantiasa membayangi cakrawala pengetahuan. Segurat keheningan yang senantiasa membujuk kita memainkan nalar secara puitis.
Pada masa yang mulai melupakan apakah ini, ingat dan sadar akan “yang hening” dan “yang lain” sungguh menjanjikan sejumput cahaya. Cahaya yang Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Poetry |
Permalink
Posted by Kafka_pizechust
December 18, 2007
Tidak sedikit orang yang ingin menjadi orang lain saat bangun tidur di pagi hari. Sayangnya, seorang salesman keliling bernama Gregor Samsa tidak bisa memilih ingin berubah menjadi siapa. Atau apa. Ia mendapati dirinya berubah menjadi kutu raksasa di pagi hari. Malangnya, kedua orang tua dan Grete, adik perempuan Gregor, menggantungkan hidup mereka pada Gregor.
Terbiasa selalu berpindah karena tuntutan pekerjaan, Gregor merasa tersiksa dengan wujudnya sebagai kutu. Ia yang hampir selalu terbangun di tempat asing, kini ia tidak bisa bekerja menghidupi keluarganya, tidak mampu menjajaki tingkat karir yang lebih tinggi dan tidak mungkin bersosialisasi. Bahkan keluarganya sendiri tidak sanggup menatap sosoknya.
Ayah Gregor, yang sempat gagal berbisnis, mulai bekerja kembali agar makanan Read the rest of this entry »
Leave a Comment » |
Poetry |
Permalink
Posted by Kafka_pizechust