Searle di dalam bukunya Speech Acts : An Essay in The Philosophy of Language (1969,23-4 ) mengemukakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang mungkin diwujudkan oleh seorang penutur di dalam berbahasa, yakni tindakan untuk mengungkapkan sesuatu (locutionary act), tindakan melakukan sesuatu (ilocutionary act), tindakan mempengaruhi lawan bicara (perlocutionary act). Secara berturut-turut ketiga jenis tindakan ini disebut sebagai the act of saying something, the act of doing something, dan the act of affecting someone. Ini hanyalah sebuah tulisan biasa, silahkan untuk mengkategorikannya :
Pergi tanpa mengilhami apa yang ada pada dirinya, hingga meninggalkan begitu banyak permasalahan pada semua orang yang pernah dekat dekatnya.
Mengakui kesalahan, itulah citra terbaik dalam kehidupan. Namun pengakuan kesalahan tanpa pemaknaan itupun tak dapat memberikan makna yang baik.
Ketika seluruh jiwa telah terlumuri oleh bibit-bibit kemunafikan yang berkembangbiak dengan begitu cepatnya. Melancarkan tingkah laku sebagai mana sifat dari bibit itu. Bibit itu telah berkembangbiak begitu lama dalam diri, namun terkadang mengalami pasang surut. Apakah ada obat yang terbaik untuk mematikan bibit tersebut ?. Jawaban itu hanya ada dalam diri sendiri, begitu jauh bertanya tanpa menyadari dalam jiwa itu semua telah ada dan itu sudah disiapkan oleh Maha Pencipta.
Kehormatan, kejujuran, kebohongan,kegengsian, kebanggaan, kepemilikan dengan paksaan dan entah apa lagi yang dimulainya dengan KE- AN. Sifat ini semua yang membawa dan menyebabkan manusia mencapai titik terendah dalam hidup.
Disaat manusia keluar dari gerbang yang telah di desain dan proses pembentukannya oleh Maha Pencipta.
Begitu bahagianya manusia yang membawahinya sebagai petunjuk jalan untuk keluar dari gerbang itu. Suara rintihan, kegembiraan diteriakkan dengan indah, kebahagian itu membawa kesadaran pada diri apa yang harus dilakukan dalam menuntunnya setelah keluar dari gerbang tersebut.
Kedua tangan manusia telah bergerak, demikian juga dengan jemari-jemari tangan mengembang tanpa tersadarkan bahwa impian ,harapan, apa yang menjadi takdir,yang telah digariskan oleh Sang Widhi itu telah terbang, terlepas. Dan itu merupakan awal kehidupannya .Dalam masyarakat umum, agama, banyak persepsi atau pandangan yang dibarengi dengan pernyataan tradisi kedaerahan , manusia yang baru keluar dari rahim ibunya, dan disaat itu pula rumusan, catatan (takdir) akan dirinya telah tercipta juga.Sebagai tambahan,pernah juga terdengar dari mulut teman lama bahwa ada 99 kunci yang terbang dan itu harus ditemukan lagi oleh manusia. Entah apa yang dimaksud, sudah terlupakan olehnya .
Waktu yang berjalan dengan indahnya, membawa manusia kedalam proses perkembangan. Suara yang berupa tangis,kegembiraan, akhirnya berubah menjadi pengungkapan dengan perkataan-perkataan. Ini juga akan berkembang, dan dapat menjerumuskan ke daerah kekalahan bila tidak dapat menjaganya dari lidah yang mengoyak perbedaan perkataan nurani.
Dimulai dari sikap telentang, tengkurap duduk, akhirnya dapat berdiri dan berjalan. Langkah-langkah ini menjadi awal yang nantinya membuat manusia memilih dimana tempat yang akan dan ingin dilaluinya. Setidaknya dan pasti telah memilih jalan yang terbaik, adapun kesalahan dalam memilih jalan merupakan warna namun bila terus menerus terulang bukanlah warna yang indah,malah menjadi buram.. tanpa ada nilai-nilai yang termaknai.
10 tahun waktu telah dilalui, bermacam-macam keadaaan entah itu kegembiraan, kesedihan, kasih sayang, namun di waktu yang seperti ini hanya memberikan basic untuk kedepannya. Namun bagi dirinya,entah karena proses didikan yang salah atau perangainya. Perkembangannya lebih banyak kesedihan yang berupa pertentangan. Siapa yang harus disalahkan?. Apakah orang yang waktu itu menuntunnya kegerbang yang harus disalahkan atau Sang Pencipta sendiri.
Ini sudah dijelaskan, pengulangan ; kesalahan itu merupakan warna, dan nantinya akan mengajak untuk melukis dengan warna tersebut, objek apa yang ingin difokuskan.
Tingkah lakunya yang cerdik, pintar meskipun pemahaman yang kurang, membawa kebanggaan tersendiri pada manusia penuntun.
Tanpa terasa waktu 19 tahun telah datang menghampiri, dikumpulkannya berbagai macam tingkah laku yang telah dilakukan semenjak keluar dari gerbang hingga waktu saat ini. Dimulai dengan mengkategorikannya. Kebaikan pada orang lain; Keburukan pada orang lain; Amal pada orang lain; Perintah pada Sang Widhi; Kebohongan pada orang lain, Kemunafikan pada orang lain. Raut muka keterkejutan, terkejut dan terkejut. Begitu jauh perbandingan dengan dilakukannya pengkategorian tersebut. Dan membuat kesedihan: Kenapa bisa keburukan begitu banyak dibandingkan kebaikan,kenapa bisa keburukan lebih banyak dibanding kebaikan, kenapa bisa kebohongan lebih banyak dari pada kebaikan, kenapa bisa kemunafikan lebih banyak daripada kebaikan, dan kenapa bisa perintah dari Sang Widhi tidak dilaksanakan lebih banyak daripada kebaikan.
Dengan keadaan seperti ini membuat manusia berputus asa, apalagi dengan waktu yang masih awal. Jangan awalan itu dijadikan akhir.
Berbaliklah kembali pada penuntun, di kala waktu penuntun mengantarkan keluar dari gerbang itu. Tanyakan pada-nya mengapa bisa terjadi seperti ini.
To be continued….!!!!
Penulis : M. Iqbal
Referensiku
Wijaya, I Dewa Putu.2004
Kartun: Studi tentang permainan Bahasa, Jakarta :Ombak
Koesalah Soebagyo Toer.2006
Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali, Jakarta :KPG



