<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Semua pergi dan berlalu dengan Indah &#187; Books</title>
	<atom:link href="http://limabelasempatlima.wordpress.com/category/books/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://limabelasempatlima.wordpress.com</link>
	<description>Di Detik itu Kurasakan Kehampaan dan Kebahagian Hati, Hingga Dapat Kumaknai Arti Keberadaan Diri Yang Hadir Di Hadapanku.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 Jan 2008 13:52:12 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='limabelasempatlima.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/16e4441fbac23ed2b33098f775767cb7?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Semua pergi dan berlalu dengan Indah &#187; Books</title>
		<link>http://limabelasempatlima.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://limabelasempatlima.wordpress.com/osd.xml" title="Semua pergi dan berlalu dengan Indah" />
		<item>
		<title>Manusia Bugis, Rantau dan Budayanya</title>
		<link>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/30/manusia-bugis-rantau-dan-budayanya/</link>
		<comments>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/30/manusia-bugis-rantau-dan-budayanya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Dec 2007 17:26:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kafka_pizechust</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/30/manusia-bugis-rantau-dan-budayanya/</guid>
		<description><![CDATA[
Judul : Manusia Bugis /Penulis : Christian Pelras /Penerbit : Nalar, Jakarta /Tahun : Februari, 2006 /Halaman : xxxxiv + 450 hlm
Oleh : Muhammad Ridwan Alimuddin

“Dari mana nenek-moyang orang Sulawesi Selatan berasal? … jika anggapan Mills benar bahwa lokasi pertama yang ditempati para pendatang adalah sekitar muara Sungai Saddang, maka kemungkinan besar asalnya dari Kalimantan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=limabelasempatlima.wordpress.com&blog=1870170&post=21&subd=limabelasempatlima&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://limabelasempatlima.files.wordpress.com/2007/12/manusiabugis1.jpg" title="Manusia Bugis"><img src="http://limabelasempatlima.files.wordpress.com/2007/12/manusiabugis1.thumbnail.jpg" alt="Manusia Bugis" /></a></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Georgia;">Judul : Manusia Bugis /Penulis : Christian Pelras /Penerbit : Nalar, Jakarta /Tahun : Februari, 2006 /Halaman : xxxxiv + 450 hlm</span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Georgia;"><strong>Oleh : Muhammad Ridwan Alimuddin</strong></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Georgia;"></span></font></p>
<p><em>“Dari mana nenek-moyang orang Sulawesi Selatan berasal? … jika anggapan Mills benar bahwa lokasi pertama yang ditempati para pendatang adalah sekitar muara Sungai Saddang, maka kemungkinan besar asalnya dari Kalimantan Timur, yakni sekitar Kutei-Samarinda, atau dari bagian tenggara Kalimantan, yakni sekitar Pegatan-Pulau Laut (belakangan, pada kedua wilayah itu terdapat perkampungan bugis. Mungkin tanpa disadari, mereka sebenarnya telah kembali ke tempat asal nenek-moyang mereka) …”</em></p>
<p>Demikian Christian Pelras, menulis salah satu tesis tentang asal nenek moyang orang Bugis di Sulawesi Selatan, di dalam bukunya <span style="font-style:italic;">Manusia Bugis</span> (Nalar, 2006 hal. 45, terjemahan dari <span style="font-style:italic;">The Bugis</span>, 1996). Tesis ini sudah lama dikemukakan oleh seorang ahli bahasa, Roger F. Mills, yaitu pada tahun 1975, namun bagi masyarakat umum di Indonesia pendapat ini mungkin masih baru.</p>
<p>Selain baru, juga menarik sebab pemahaman yang ada adalah orang Bugis (termasuk suku-suku lain di Sulawesi Selatan dan Barat) yang ada di Kalimantan Timur dewasa ini berasal dari pulau Sulawesi dari proses gelombang migrasi yang hampir terjadi sepanjang tahun, meski itu hanya per individu. Dengan kata lain, “Mereka kembali ke asal”. Betulkah demikian? <span id="more-21"></span>Ada ilmuwan yang setuju, ada yang tidak. Namun dari penelitian kesamaan bahasa dan kedekatan geografis, itu sangat dimungkinkan untuk terjadi.<br />
<span class="fullpost"><br />
Terlepas orang Bugis “kembali” atau tidak, Kalimantan Timur merupakan salah satu kawasan penting di dalam sejarah migrasi orang Bugis, sejak ratusan tahun lampau sampai detik tulisan ini dibuat. Untuk itu, pada gilirannya, dunia sosial, politik, ekonomi, dan budaya di Kalimantan Timur tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan Bugis atau Sulawesi Selatan secara umum.</span><span class="fullpost">Manusia Bugis di Kalimantan Timur tidaklah satu “jenis” saja. Pertama yang perlu diketahui, istilah “Bugis” sering diartikan sebagai “orang dari Sulawesi Selatan”, meski orang itu beretnik Makassar, Mandar, Bajau dan Toraja. Kedua, ada orang Bugis yang memang melakukan migrasi (lahir di tanah Sulawesi untuk kemudian pindah) dan ada yang orang hanya Bugis <span style="font-style:italic;">biologis </span>saja, yaitu kedua (atau satu) orangtuanya berasal dari Sulawesi tetapi dia lahir di Kalimantan Timur.</p>
<p>Buku setebal 500 halaman ini merupakan buku terbaik tentang kebudayaan Suku Bugis. Artinya, dia bisa menjadi rujukan untuk dua hal di atas: perbedaan dan kesamaan Bugis dengan suku lain dan acuan generasi Bugis yang lahir di luar <span style="font-style:italic;">tana Ugi</span>, misalnya di Kalimantan Timur ini. Manusia Bugis dan budayanya amatlah penting diketahui dari sumber yang obyektif sebab seringkali ada yang belum kita pahami hingga menimbulkan persepsi yang salah atau berlebihan terhadap Bugis dan manusianya.</p>
<p>Kalimat kunci yang menjadi benang merah antara: Pulau Sulawesi–manusia Bugis–migrasi–tujuan migrasi adalah alasan untuk melakukan perpindahan dari tanah kelahirannya ke daerah lain, baik di pulau yang sama (Sulawesi) maupun di seberang lautan: <span style="font-style:italic;">“…berhubungan dengan upaya mencari pemecahan konflik pribadi, menghindari penghinaan, kondisi yang tidak aman, atau keinginan untuk melepaskan diri baik dari kondisi sosial yang tidak memuaskan, maupun hal-hal yang tidak diinginkan akibat tindakan kekerasan yang dilakukan ditempat asal.”</span> (hal. 370).</p>
<p>Dari alasan-alasan di atas, Pelras mengambil kasus orang Bugis di Kalimantan Timur sebagai salah satu contoh, yaitu perpindahan seorang bangsawan Wajo’ bernama La Ma’dukelleng bersama 3.000 pengikutnya ke Pasir. Dan oleh Sultan Pasir, perantau tersebut diberi tanah yang sekarang ini dikenal dengan nama Samarinda, kawasan yang dibesarkan oleh orang Bugis.</p>
<p>Alasan di atas berlanjut: <span style="font-style:italic;">“Hanya saja, alasan seperti itu saja tampaknya tidak akan cukup memadai untuk dijadikan landasan untuk memahami mengapa begitu banyak tersebar pemukiman orang Bugis di seluruh Nusantara sejak akhir abad ke-17. Juga tidak dapat menjelaskan kenyataan bahwa—terlepas dari keadaan yang terus berubah—aktivitas perantauan justru merupakan ciri khas “permanen” orang Bugis hingga kini”.</span></p>
<p>Lalu, sebenarnya budaya apa sih yang identik dengan manusia Bugis? Pertanyaan ini mudah dijawab untuk orang Bugis yang memang lahir dan besar di Sulawesi Selatan. Lalu bagaimana yang mengklaim dirinya sebagai <span style="font-style:italic;">to Bugis </span>tetapi dia lahir di daerah lain, katakanlah Kalimantan Timur? Ya, dia berhak bersikap demikian jika kedua orangtuanya Bugis totok, hitung-hitung dia bisa berbahasa Bugis. Tapi ini kan hanya salah satu unsur budaya Bugis. Bagaimana dengan unsur-unsur budaya yang lain? Apakah dia juga memiliki sikap <span style="font-style:italic;">siriq</span> dan <span style="font-style:italic;">pesseq</span>? Apakah ketika dia lahir dan menikah oleh orangtuanya menggunakan budaya-budaya Bugis? Rumahnya berarsitektur rumah Bugis? Apakah dia menjadi bagian dari pranata sosial yang berkembang di tanah Bugis?</p>
<p>Inilah yang perlu dijawab dan dipahami generasi Bugis yang lahir di perantauan. <span style="font-style:italic;">Manusia Bugis</span> dapat dijadikan sebagai bahan perenungan untuk dapat memposisikan diri sebagai generasi yang tidak kehilangan akar budaya meski dia lahir di luar tanah-budaya moyangnya; meski ciri Bugis hanya karena dia keturunan sepasan laki-laki dan perempuan yang berasal dari Sulawesi Selatan.</p>
<p>Bukan itu saja, orang lain yang mempunyai latar belakang suku yang berbeda tetapi bergaul dengan manusia Bugis di kesehariannya, misalnya sebagai isteri/suami, teman sekantor, rekan bisnis, dan sahabat juga penting untuk memahami budaya-budaya Bugis. Bagaimanapun, Banjar, Dayak, Jawa, dan suku lain di Kalimantan Timur mempunyai banyak perbedaan dengan budaya Bugis yang sedikit-banyak seringkali menimbulkan pergesakan yang berujung pada konflik. Pemahaman atas budaya Bugis dan sebaliknya (orang Bugis juga harus memahami budaya pihak lain) adalah salah satu cara untuk menjalin hubungan yang harmonis.</p>
<p>Di mata orang luar, orang Bugis dikenal sebagai orang berkarakter keras dan sangat menjunjung tinggi kehormatan. Bila perlu, demi mempertahankan kehormatan (<span style="font-style:italic;">siriq</span>), mereka bersedia melakukan tindak kekerasan. Namun demikian, di balik sifat keras itu, orang Bugis juga dikenal sebagai orang yang ramah dan sangat menghargai orang lain serta sangat tinggi kesetiakawanannya. Orang Bugis memiliki berbagai ciri khas yang sangat menarik. Mereka adalah contoh yang jarang terdapat di wilayah Nusantara. Mereka mampu mendirikan kerajaan-kerajaan yang sama sekali tidak mengandung pengaruh India, dan tanpa mendirikan kota sebagai pusat aktivitas mereka. Orang Bugis juga memiliki kesusastraan, baik lisan maupun tulisan yang cukup dikagumi. Dan setelah menganut Islam, bersama Aceh, Minangkabau, Melayu, Sunda, Madura, Moro, Banjar, Makassar, dan Mandar, orang Bugis identik sebagai orang di Nusantara yang kuat identitas keislamannya.</p>
<p>Sumber Asli :  <a href="http://buginese.blogspot.com/">http://buginese.blogspot.com</a></p>
<p>Editor : Admin LBEL</p>
<p></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/limabelasempatlima.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/limabelasempatlima.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/limabelasempatlima.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/limabelasempatlima.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/limabelasempatlima.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/limabelasempatlima.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/limabelasempatlima.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/limabelasempatlima.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/limabelasempatlima.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/limabelasempatlima.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/limabelasempatlima.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/limabelasempatlima.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=limabelasempatlima.wordpress.com&blog=1870170&post=21&subd=limabelasempatlima&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/30/manusia-bugis-rantau-dan-budayanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/550a1dc3b311f1c7f49f2fae333d0bd4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Kafka_pizechust</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://limabelasempatlima.files.wordpress.com/2007/12/manusiabugis1.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Manusia Bugis</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>