Pulang

December 18, 2007

Aku pulang. Kulewati koridor dan kuberbalik memandangi semua. Halaman rumah ayahku. Ada genangan air di tengah halaman itu. Perkakas tua tak terpakai, bergeletakan membentuk jalan menuju tangga. Kucing bermalas-malasan di teras. Kain yang dirobek terikat di tiang, berkibar ditiup angin. Aku datang. Siapa yang akan menyambutku? Siapa yang menunggu di belakang pintu dapur? Asap keluar dari cerobong, kopi untuk makan malam sedang dimasak.

Tidakkah aneh untukmu, apakah kau merasa ada di rumah? Aku tidak tahu Read the rest of this entry »


Titik Nadir…!!! (Akhir dari awal)

December 18, 2007

Searle di dalam bukunya Speech Acts : An Essay in The Philosophy of Language (1969,23-4 ) mengemukakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang mungkin diwujudkan oleh seorang penutur di dalam berbahasa, yakni tindakan untuk mengungkapkan sesuatu (locutionary act), tindakan melakukan sesuatu (ilocutionary act), tindakan mempengaruhi lawan bicara (perlocutionary act). Secara berturut-turut ketiga jenis tindakan ini disebut sebagai the act of saying something, the act of doing something, dan the act of affecting someone. Ini hanyalah sebuah tulisan biasa, silahkan untuk mengkategorikannya :   

Pergi tanpa mengilhami apa yang ada pada dirinya, hingga meninggalkan begitu banyak permasalahan pada semua orang yang pernah dekat dekatnya.

Mengakui kesalahan, itulah citra terbaik dalam kehidupan. Namun Read the rest of this entry »


Hening

December 18, 2007

Tak satu pun lentera menyala saat aku membaca/ selintas suara bergumam, “segala sesuatu jatuh ke dalam kebekuan yang mencekam”/ bahkan melon atau pir dari taman tak berdaun. Sebait puisi karya penyair Wallace Stevens itu mengingatkan kita untuk selalu eling lan waspodo/ makatutu, ingat dan sadar, pada segurat keheningan yang senantiasa membayangi cakrawala pengetahuan. Segurat keheningan yang senantiasa membujuk kita memainkan nalar secara puitis.

Pada masa yang mulai melupakan apakah ini, ingat dan sadar akan “yang hening” dan “yang lain” sungguh menjanjikan sejumput cahaya. Cahaya yang Read the rest of this entry »


The Metamorphosis

December 18, 2007

Tidak sedikit orang yang ingin menjadi orang lain saat bangun tidur di pagi hari. Sayangnya, seorang salesman keliling bernama Gregor Samsa tidak bisa memilih ingin berubah menjadi siapa. Atau apa. Ia mendapati dirinya berubah menjadi kutu raksasa di pagi hari. Malangnya, kedua orang tua dan Grete, adik perempuan Gregor, menggantungkan hidup mereka pada Gregor.
Terbiasa selalu berpindah karena tuntutan pekerjaan, Gregor merasa tersiksa dengan wujudnya sebagai kutu. Ia yang hampir selalu terbangun di tempat asing, kini ia tidak bisa bekerja menghidupi keluarganya, tidak mampu menjajaki tingkat karir yang lebih tinggi dan tidak mungkin bersosialisasi. Bahkan keluarganya sendiri tidak sanggup menatap sosoknya.
Ayah Gregor, yang sempat gagal berbisnis, mulai bekerja kembali agar makanan Read the rest of this entry »