<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Semua pergi dan berlalu dengan Indah</title>
	<atom:link href="http://limabelasempatlima.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://limabelasempatlima.wordpress.com</link>
	<description>Di Detik itu Kurasakan Kehampaan dan Kebahagian Hati, Hingga Dapat Kumaknai Arti Keberadaan Diri Yang Hadir Di Hadapanku.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 Jan 2008 13:52:12 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='limabelasempatlima.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/16e4441fbac23ed2b33098f775767cb7?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Semua pergi dan berlalu dengan Indah</title>
		<link>http://limabelasempatlima.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Mengukur Kontribusi LSM</title>
		<link>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2008/01/02/mengukur-kontribusi-lsm/</link>
		<comments>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2008/01/02/mengukur-kontribusi-lsm/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jan 2008 13:49:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kafka_pizechust</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://limabelasempatlima.wordpress.com/2008/01/02/mengukur-kontribusi-lsm/</guid>
		<description><![CDATA[Keberadaan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sejauh ini memiliki kontribusi yang besar bagi tugas-tugas pemerintah dalam pematangan kehidupan demokrasi, dalam melaksanakan fungsi control dan pendampingan. Meskipun terkadang direspon secara “negative” oleh pemerintah, tapi pada dasarnya ia sangat bermanfaat sebagai alat control. Yang mereka lakukan juga untuk kebaikan bangsa dan pemerintah Indonesia
 sendiri, bukan membawa misi dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=limabelasempatlima.wordpress.com&blog=1870170&post=26&subd=limabelasempatlima&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span></span>Keberadaan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sejauh ini memiliki kontribusi yang besar bagi tugas-tugas pemerintah dalam pematangan kehidupan demokrasi, dalam melaksanakan fungsi control dan pendampingan. Meskipun terkadang direspon secara “negative” oleh pemerintah, tapi pada dasarnya ia sangat bermanfaat sebagai alat control. Yang mereka lakukan juga untuk kebaikan bangsa dan pemerintah Indonesia</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> sendiri, bukan membawa misi dan kepentingan Negara lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">LSM bisa menjadi mitra konstruktif bagi pemerintah apabila mereka melakukan kontribusi yang konstruktif juga. Ia bisa menjadi alat koreksi yang efektif bagi kebijakan publik yang menyimpang. Ia bisa menjadi alat penekan apabila pemerintah keluar dari garis yang dikehendaki rakyat. LSM bisa menghalangi terjadinya kekuasaan tersebut. Ia juga bisa masuk ke wilayah manapun juga apabila ada <i>gap </i>antara kebijakan dan implementasi di lapangan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Di sisi lain, juga banyak LSM yang menjadi masalah, karena tidak jelasnya tujuan, komitmen dan cara-cara yang dilakukan. Yang wajib dipertanyakan bangsa ini adalah bila ada LSM di negeri ini yang buta terhadap keindonesiaan. Tidak peduli pada kepentingan bangsa. Tidak peduli pada rasa kebangsaan dan lebih meletakkan dirinya sebagai perpanjangan kepentingan asing. Asing di sini, bisa lembaga internasional, bisa Negara lain, atau organisasi apa daja. Ini bisa mengganggu ekstensi bangsa Indonesia secara utuh. Sebagai contoh<span id="more-26"></span>, ada aktivitas HAM atau LSM di Indonesia yang menafsirkan kebebasan secara absolt, lalu dia menyokong gerakan separatisme,baik di Aceh, Papia, atau wilayah lainna. Karena merasa sebagai organisasi humanis dan pejuang HAM, dia berpikir hak politik dan hak untuk menenrukan nasib sendiri itu tidak bisa diganggu oleh siapapun, termasuk bangsa dan pemerintah dia sendiri. Dia tidak punya beban sama sekali kalau salah satu wilayah kita lepas menjadi Negara sendiri demi pandangan mereka yang “humanis” itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kalau hal yang terjasi, maka LSM seperti itu patut dipertanyakan eksistensinya di Negara kesatuan ini. Karena eksistensinya di Negara kesatuan ini. Karena bagaimanapun kita tidak boleh berkhianat terhadap nilai-nilai dasar kebangsaan. Dia harus tetap seorang Indonesia. Harus paham betul terhadao kepentingan bangsa secara menyeluruh.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Nama bukan berarti mereka dikucilkan secara serta merta. Kita tetap perlu mengajak dan menyadarkan mereka semua untuk menjadi bagian dari bangsa ini dengan memelihara rasa dan wawasan kebangsaan yang setinggi-tingginya. Kecuali, kalau mereka sudah berhadapan dengan hokum.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kalau mereka sangat fanatic dalam memperjuangkan pikiran dan akhirnya bertabrakan dengan hokum nasional, misalnya terlibat aktif dalam gerakan separatisme, terlibat aktif mendukung separatisme dengan pikiran tadi itu, atau mendukung proses penentuan nasib sendiri, kepada mereka mesti diberikan sanksi hokum. Tidak boleh hanya dilakukan langkah persuasive.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tidak mudah menyeimbangkan antara potensi intervensi asing dengan komitmen pada kepentingan nasional, karena akhirnya control itu harus berangkat dari para aktivis dan anggota LSM itu sendiri. Pemerintah tidak bisa mengatur secara hitam putih bagaimana mereka harus menjaga keseimbangan itu. Harus kita sadari pula bahwa banyak sekali organisasi internasional yang tidak peduli dan tidak menghormati kedalulatan sebuah bangsa. Dia betul-betu mendasaekan pikirannya kepada humanisme dan internasionalisme.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kalau hak asasi atau hak untuk menentukan nasib sendiri diartikan secara absolute, maka medan perjuangan mereka tidak mengenal batas Negara. Dia bisa masuk Asia, Eropa, atau Afrika. Dia bisa masuk pemerintahan manapun untuk membantu anasir dissident di dalam negeri untuk mencapai cita-cita politiknya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kalau sudah seperti itu, ada dua pendekatan yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia. <i>Pertama </i>, dengan ajakan agar mereka tidak menghianati nilai dasar dan kaidah kedaulatan Negara kita. <i>Kedua, </i>kalau itu tidak berhasil menyadarkan mereka, berlakukan hokum positif yang berlaku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pendekatan ini bukan pendekatan kekuatan. Ini pendekatan hokum. Dan pendekatan akan <i>accountable</i>. Kita bisa menjelaskan kepada dunia. Suatu ketika saya berdiskusi dengan pejabat Amnesti Internasional yang sangat genjar dank eras menyoroti potret HAM dan Demokrasi di Indonesia. Mereka mengatakan bahwa pemerintah Indonesia pada era reformasi pun masih terkesan otoriter dan membatasi hak-hak politik warga Negara sendiri. Sejumlah aktivis ditahan oleh pemerintah Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Para pejabat Amnesti Internasional ini tidak mau tahu latar belakang penahanan sejumlah aktivis tersebut. Padahal para aktivis tersebut dengan sengaja merancang sebuah gerakan pemisahan diri atau separatisme, atau paling tidak dia melawan hokum yang berlaku di Indonesia, yaitu menyebarkan rasa permusuhan terhadap Negara, dan itu sudah melawn hokum. Namun mereka bersikeras, bahwa yang salah adalah hokum Indonesia yang membatasi ruang gerak warganya. Ini contoh bahwa mereka tidak peduli pad kedaulatan, pada sistem hokum, dan pada apapun yang berlaku di sebua Negara. Kita menolak cara berpikir seperti itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kalau toh hukum kita berkembang sejalan dengan keniscayaan nilai-nilai universal, HAM , demokrasi, pasar beas, dan sebagainya, dan akhirnya semua harus menyesuaikan, itu bisa saja terjadi. Tapi, sekarang ini Indonesia adalah Negara hokum. Hokum posited yang berlaku mengatakan bahwa tidak boleh seseorang merencanakan dan melaksanakan aksi-aksi separatisme. Oleh karena itu, setiap aksi separatisme harus diberi sanksi yan tepat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"> <b>Oleh : H. Susilo Bambang Yudhoyono</b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><i>(dalam bukunya Menuju Perubahan &#8220;Menegakkan CIVIL SOCIETY)</i>  </b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b>Editor : Admin LBEL<i> </i><span> </span></b></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/limabelasempatlima.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/limabelasempatlima.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/limabelasempatlima.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/limabelasempatlima.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/limabelasempatlima.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/limabelasempatlima.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/limabelasempatlima.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/limabelasempatlima.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/limabelasempatlima.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/limabelasempatlima.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/limabelasempatlima.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/limabelasempatlima.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=limabelasempatlima.wordpress.com&blog=1870170&post=26&subd=limabelasempatlima&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2008/01/02/mengukur-kontribusi-lsm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/550a1dc3b311f1c7f49f2fae333d0bd4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Kafka_pizechust</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Manusia Bugis, Rantau dan Budayanya</title>
		<link>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/30/manusia-bugis-rantau-dan-budayanya/</link>
		<comments>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/30/manusia-bugis-rantau-dan-budayanya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Dec 2007 17:26:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kafka_pizechust</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/30/manusia-bugis-rantau-dan-budayanya/</guid>
		<description><![CDATA[
Judul : Manusia Bugis /Penulis : Christian Pelras /Penerbit : Nalar, Jakarta /Tahun : Februari, 2006 /Halaman : xxxxiv + 450 hlm
Oleh : Muhammad Ridwan Alimuddin

“Dari mana nenek-moyang orang Sulawesi Selatan berasal? … jika anggapan Mills benar bahwa lokasi pertama yang ditempati para pendatang adalah sekitar muara Sungai Saddang, maka kemungkinan besar asalnya dari Kalimantan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=limabelasempatlima.wordpress.com&blog=1870170&post=21&subd=limabelasempatlima&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://limabelasempatlima.files.wordpress.com/2007/12/manusiabugis1.jpg" title="Manusia Bugis"><img src="http://limabelasempatlima.files.wordpress.com/2007/12/manusiabugis1.thumbnail.jpg" alt="Manusia Bugis" /></a></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Georgia;">Judul : Manusia Bugis /Penulis : Christian Pelras /Penerbit : Nalar, Jakarta /Tahun : Februari, 2006 /Halaman : xxxxiv + 450 hlm</span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Georgia;"><strong>Oleh : Muhammad Ridwan Alimuddin</strong></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-family:Georgia;"></span></font></p>
<p><em>“Dari mana nenek-moyang orang Sulawesi Selatan berasal? … jika anggapan Mills benar bahwa lokasi pertama yang ditempati para pendatang adalah sekitar muara Sungai Saddang, maka kemungkinan besar asalnya dari Kalimantan Timur, yakni sekitar Kutei-Samarinda, atau dari bagian tenggara Kalimantan, yakni sekitar Pegatan-Pulau Laut (belakangan, pada kedua wilayah itu terdapat perkampungan bugis. Mungkin tanpa disadari, mereka sebenarnya telah kembali ke tempat asal nenek-moyang mereka) …”</em></p>
<p>Demikian Christian Pelras, menulis salah satu tesis tentang asal nenek moyang orang Bugis di Sulawesi Selatan, di dalam bukunya <span style="font-style:italic;">Manusia Bugis</span> (Nalar, 2006 hal. 45, terjemahan dari <span style="font-style:italic;">The Bugis</span>, 1996). Tesis ini sudah lama dikemukakan oleh seorang ahli bahasa, Roger F. Mills, yaitu pada tahun 1975, namun bagi masyarakat umum di Indonesia pendapat ini mungkin masih baru.</p>
<p>Selain baru, juga menarik sebab pemahaman yang ada adalah orang Bugis (termasuk suku-suku lain di Sulawesi Selatan dan Barat) yang ada di Kalimantan Timur dewasa ini berasal dari pulau Sulawesi dari proses gelombang migrasi yang hampir terjadi sepanjang tahun, meski itu hanya per individu. Dengan kata lain, “Mereka kembali ke asal”. Betulkah demikian? <span id="more-21"></span>Ada ilmuwan yang setuju, ada yang tidak. Namun dari penelitian kesamaan bahasa dan kedekatan geografis, itu sangat dimungkinkan untuk terjadi.<br />
<span class="fullpost"><br />
Terlepas orang Bugis “kembali” atau tidak, Kalimantan Timur merupakan salah satu kawasan penting di dalam sejarah migrasi orang Bugis, sejak ratusan tahun lampau sampai detik tulisan ini dibuat. Untuk itu, pada gilirannya, dunia sosial, politik, ekonomi, dan budaya di Kalimantan Timur tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan Bugis atau Sulawesi Selatan secara umum.</span><span class="fullpost">Manusia Bugis di Kalimantan Timur tidaklah satu “jenis” saja. Pertama yang perlu diketahui, istilah “Bugis” sering diartikan sebagai “orang dari Sulawesi Selatan”, meski orang itu beretnik Makassar, Mandar, Bajau dan Toraja. Kedua, ada orang Bugis yang memang melakukan migrasi (lahir di tanah Sulawesi untuk kemudian pindah) dan ada yang orang hanya Bugis <span style="font-style:italic;">biologis </span>saja, yaitu kedua (atau satu) orangtuanya berasal dari Sulawesi tetapi dia lahir di Kalimantan Timur.</p>
<p>Buku setebal 500 halaman ini merupakan buku terbaik tentang kebudayaan Suku Bugis. Artinya, dia bisa menjadi rujukan untuk dua hal di atas: perbedaan dan kesamaan Bugis dengan suku lain dan acuan generasi Bugis yang lahir di luar <span style="font-style:italic;">tana Ugi</span>, misalnya di Kalimantan Timur ini. Manusia Bugis dan budayanya amatlah penting diketahui dari sumber yang obyektif sebab seringkali ada yang belum kita pahami hingga menimbulkan persepsi yang salah atau berlebihan terhadap Bugis dan manusianya.</p>
<p>Kalimat kunci yang menjadi benang merah antara: Pulau Sulawesi–manusia Bugis–migrasi–tujuan migrasi adalah alasan untuk melakukan perpindahan dari tanah kelahirannya ke daerah lain, baik di pulau yang sama (Sulawesi) maupun di seberang lautan: <span style="font-style:italic;">“…berhubungan dengan upaya mencari pemecahan konflik pribadi, menghindari penghinaan, kondisi yang tidak aman, atau keinginan untuk melepaskan diri baik dari kondisi sosial yang tidak memuaskan, maupun hal-hal yang tidak diinginkan akibat tindakan kekerasan yang dilakukan ditempat asal.”</span> (hal. 370).</p>
<p>Dari alasan-alasan di atas, Pelras mengambil kasus orang Bugis di Kalimantan Timur sebagai salah satu contoh, yaitu perpindahan seorang bangsawan Wajo’ bernama La Ma’dukelleng bersama 3.000 pengikutnya ke Pasir. Dan oleh Sultan Pasir, perantau tersebut diberi tanah yang sekarang ini dikenal dengan nama Samarinda, kawasan yang dibesarkan oleh orang Bugis.</p>
<p>Alasan di atas berlanjut: <span style="font-style:italic;">“Hanya saja, alasan seperti itu saja tampaknya tidak akan cukup memadai untuk dijadikan landasan untuk memahami mengapa begitu banyak tersebar pemukiman orang Bugis di seluruh Nusantara sejak akhir abad ke-17. Juga tidak dapat menjelaskan kenyataan bahwa—terlepas dari keadaan yang terus berubah—aktivitas perantauan justru merupakan ciri khas “permanen” orang Bugis hingga kini”.</span></p>
<p>Lalu, sebenarnya budaya apa sih yang identik dengan manusia Bugis? Pertanyaan ini mudah dijawab untuk orang Bugis yang memang lahir dan besar di Sulawesi Selatan. Lalu bagaimana yang mengklaim dirinya sebagai <span style="font-style:italic;">to Bugis </span>tetapi dia lahir di daerah lain, katakanlah Kalimantan Timur? Ya, dia berhak bersikap demikian jika kedua orangtuanya Bugis totok, hitung-hitung dia bisa berbahasa Bugis. Tapi ini kan hanya salah satu unsur budaya Bugis. Bagaimana dengan unsur-unsur budaya yang lain? Apakah dia juga memiliki sikap <span style="font-style:italic;">siriq</span> dan <span style="font-style:italic;">pesseq</span>? Apakah ketika dia lahir dan menikah oleh orangtuanya menggunakan budaya-budaya Bugis? Rumahnya berarsitektur rumah Bugis? Apakah dia menjadi bagian dari pranata sosial yang berkembang di tanah Bugis?</p>
<p>Inilah yang perlu dijawab dan dipahami generasi Bugis yang lahir di perantauan. <span style="font-style:italic;">Manusia Bugis</span> dapat dijadikan sebagai bahan perenungan untuk dapat memposisikan diri sebagai generasi yang tidak kehilangan akar budaya meski dia lahir di luar tanah-budaya moyangnya; meski ciri Bugis hanya karena dia keturunan sepasan laki-laki dan perempuan yang berasal dari Sulawesi Selatan.</p>
<p>Bukan itu saja, orang lain yang mempunyai latar belakang suku yang berbeda tetapi bergaul dengan manusia Bugis di kesehariannya, misalnya sebagai isteri/suami, teman sekantor, rekan bisnis, dan sahabat juga penting untuk memahami budaya-budaya Bugis. Bagaimanapun, Banjar, Dayak, Jawa, dan suku lain di Kalimantan Timur mempunyai banyak perbedaan dengan budaya Bugis yang sedikit-banyak seringkali menimbulkan pergesakan yang berujung pada konflik. Pemahaman atas budaya Bugis dan sebaliknya (orang Bugis juga harus memahami budaya pihak lain) adalah salah satu cara untuk menjalin hubungan yang harmonis.</p>
<p>Di mata orang luar, orang Bugis dikenal sebagai orang berkarakter keras dan sangat menjunjung tinggi kehormatan. Bila perlu, demi mempertahankan kehormatan (<span style="font-style:italic;">siriq</span>), mereka bersedia melakukan tindak kekerasan. Namun demikian, di balik sifat keras itu, orang Bugis juga dikenal sebagai orang yang ramah dan sangat menghargai orang lain serta sangat tinggi kesetiakawanannya. Orang Bugis memiliki berbagai ciri khas yang sangat menarik. Mereka adalah contoh yang jarang terdapat di wilayah Nusantara. Mereka mampu mendirikan kerajaan-kerajaan yang sama sekali tidak mengandung pengaruh India, dan tanpa mendirikan kota sebagai pusat aktivitas mereka. Orang Bugis juga memiliki kesusastraan, baik lisan maupun tulisan yang cukup dikagumi. Dan setelah menganut Islam, bersama Aceh, Minangkabau, Melayu, Sunda, Madura, Moro, Banjar, Makassar, dan Mandar, orang Bugis identik sebagai orang di Nusantara yang kuat identitas keislamannya.</p>
<p>Sumber Asli :  <a href="http://buginese.blogspot.com/">http://buginese.blogspot.com</a></p>
<p>Editor : Admin LBEL</p>
<p></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/limabelasempatlima.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/limabelasempatlima.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/limabelasempatlima.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/limabelasempatlima.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/limabelasempatlima.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/limabelasempatlima.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/limabelasempatlima.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/limabelasempatlima.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/limabelasempatlima.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/limabelasempatlima.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/limabelasempatlima.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/limabelasempatlima.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=limabelasempatlima.wordpress.com&blog=1870170&post=21&subd=limabelasempatlima&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/30/manusia-bugis-rantau-dan-budayanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/550a1dc3b311f1c7f49f2fae333d0bd4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Kafka_pizechust</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://limabelasempatlima.files.wordpress.com/2007/12/manusiabugis1.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Manusia Bugis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Quota for Women&#8217;s 30 %</title>
		<link>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/27/quota-for-womens-30/</link>
		<comments>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/27/quota-for-womens-30/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Dec 2007 21:46:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kafka_pizechust</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gender]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/27/quota-for-womens-30/</guid>
		<description><![CDATA[Policy Innovation for Political Reform in Indonesia
“30 % Quota for Women’s Representation in Parliament”




Time Period/Parliament

Women- Representation
Male-Representation



&#160;


1950 – 1955 (Temporary DPR) 9    (3, 8%) 236 (96, 2%)


1955 -  1960 17 (6, 3%) 272 (93, 7%)


1956 – 1959 (Konstituante) 25 (5, 1%) 488 (94, 9%)


1971 – 1977 36 (6, 3%) 460 (92, 2%)


1977 – 1982 29 (6, 3%) 460 (93, 7%)


1982 – 1987 39 (8, 5%) 460 (91, 5%)


1987 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=limabelasempatlima.wordpress.com&blog=1870170&post=19&subd=limabelasempatlima&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b><span style="font-size:12pt;line-height:115%;"><font face="Times New Roman">Policy Innovation for Political Reform in Indonesia</font></span></b></p>
<p><b><span style="font-size:12pt;line-height:115%;"></span></b><b><span style="font-size:12pt;line-height:115%;"><font face="Times New Roman">“30 % Quota for Women’s Representation in Parliament”</font></span></b></p>
<p><b><span style="font-size:12pt;line-height:115%;"><font face="Times New Roman"></font></span></b></p>
<table border="1" align="left" cellPadding="0" cellSpacing="0" style="border-collapse:collapse;border:medium none;margin:auto 6.75pt;" class="MsoNormalTable">
<tr style="height:10.95pt;">
<td width="289" vAlign="top" style="width:216.7pt;height:10.95pt;background-color:transparent;border:black 1pt solid;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;"><font face="Times New Roman">Time Period/Parliament</font></span></p>
</td>
<td width="200" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:black 1pt solid;border-left:#ece9d8;width:150.1pt;border-bottom:black 1pt solid;height:10.95pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;"><span style="font-size:10pt;"><font face="Times New Roman">Women- Representation</font></span></td>
<td width="164" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:black 1pt solid;border-left:#ece9d8;width:122.8pt;border-bottom:black 1pt solid;height:10.95pt;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;"><span style="font-size:10pt;"><font face="Times New Roman">Male-Representation</font></span></td>
</tr>
</table>
<p><font face="Times New Roman"></font></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<ul>
<li>
<div align="left"><font face="Times New Roman">1950 – 1955 (Temporary DPR) 9    (3, 8%) 236 (96, 2%)</font></div>
</li>
<li>
<div align="left"><font face="Times New Roman">1955 -  1960 17 (6, 3%) 272 (93, 7%)</font></div>
</li>
<li>
<div align="left"><font face="Times New Roman">1956 – 1959 (Konstituante) 25 (5, 1%) 488 (94, 9%)</font></div>
</li>
<li>
<div align="left"><font face="Times New Roman">1971 – 1977 36 (6, 3%) 460 (92, 2%)</font></div>
</li>
<li>
<div align="left"><font face="Times New Roman">1977 – 1982 29 (6, 3%) 460 (93, 7%)</font></div>
</li>
<li>
<div align="left"><font face="Times New Roman">1982 – 1987 39 (8, 5%) 460 (91, 5%)</font></div>
</li>
<li>
<div align="left"><font face="Times New Roman">1987 – 1992 65 (13%) 500 (87%)</font></div>
</li>
<li>
<div align="left"><font face="Times New Roman">1992 – 1997 62 (12, 5%) 500 (87, 5%)</font></div>
</li>
<li>
<div align="left"><font face="Times New Roman">1999- 2004 (Post-Suharto) 46 (9%) 500 (91%)</font></div>
</li>
<li>
<div align="left"><font face="Times New Roman">2004- 2009 (Quota 30%) 61 (11, 9 %) (slightly improvement) 489 (88, 7</font></div>
</li>
</ul>
<p align="left"><font face="Times New Roman">More than 53% of the total population in Indonesia consists of women. However, since the 1999 legislative elections that marked Indonesia’s transition to democracy, women comprise only 9 percent of the national legislature (46 from 546 members), 6 percent of provincial assemblies and 4 percent of district assemblies. In addition, only few district executives, provincial governors or senior national government officials are women. Public campaigns,<span id="more-19"></span> lobbies and negotiations, demonstrations and dialogues are possible strategies for women to attain their political rights. </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Throughout 2002, as a part of broader process of constitutional reform, Indonesian politicians debated the establishment of quota for women’s representation. Many women’s groups campaigned for a quota. In February 2003, a limited compromise was reached; the approval of a clause in the new political party law that encourages (<u>but does not require</u>) parties to nominate women as at least 30 percent of their candidates for the 2004 elections.</font></p>
<p><em><b><font face="Times New Roman">Law No. 12/2003 on election of Parliament members was endorsed on February 18, 2003, with a clause on a quota for women’s representation in Article 65 section 1:</font></b><b><font face="Times New Roman">“Every political parties participating in the general election in nominating Candidates for DPR, Provincial DPRD and municipality DPRD members in every region should consider women’s representation of at least 30%”.</font></b></em></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">The new electoral reform bill calls for 30% of all candidates in parliamentary elections to be female. The 30% quota does not discriminate men, but should be understood as a necessity in the context of Indonesia’s political culture. However, many activists argue that there is still a lack of political will to make sure that enough suitable women come forward to stand for a candidacy in the parliament. Therefore, without an endorsed law, women will be sidelined in Indonesia’s political life.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Although the clause is not compulsory, the above political decision should be seen as both an opportunity and challenge, and should act as a political foundation to increase women’s political participation and representation in Indonesia. </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Yet, there are still many doubts regarding the new policy, particularly on its impact on the agenda of change. While the result of the 2004 elections showed a slight improvement (3.9 %) from the previous elections, the new policy still remains a challenge in the democratization process. However, it could impact voters’ preferences to women as political leaders, change the performance and efficiency of women politicians, change the political culture, lead to changes in policies (the political decisions), increase in the power of women (empowerment) and change the political discourse. Yet, more time is needed until this policy becomes institutionalized. </font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">In a comparative perspective, many countries have already implemented similar policies of quota as a way to enhance and empower women in their parliaments. After a few years, there were significant results in the increase of the number of women representation in parliaments. </font></p>
<table border="1" cellPadding="0" cellSpacing="0" style="border-collapse:collapse;border:medium none;margin:auto auto auto 5.4pt;" class="MsoNormalTable">
<tr>
<td width="152" vAlign="top" style="width:114.3pt;background-color:transparent;border:black 1pt solid;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><b><font size="3"><font face="Times New Roman">Countries</font></font></b></p>
</td>
<td width="160" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:black 1pt solid;border-left:#ece9d8;width:119.7pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;"><b><font size="3"><font face="Times New Roman">Years </font></font></b></td>
<td width="160" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:black 1pt solid;border-left:#ece9d8;width:119.7pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;"><b><font size="3"><font face="Times New Roman">Quota %</font></font></b></td>
<td width="152" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:black 1pt solid;border-left:#ece9d8;width:114.3pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;"><b><font size="3"><font face="Times New Roman">Impact</font></font></b></td>
</tr>
<tr>
<td width="152" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:black 1pt solid;width:114.3pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Argentina</font></p>
</td>
<td width="160" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:119.7pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">1991,2001</font></p>
</td>
<td width="160" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:119.7pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">30</font></p>
</td>
<td width="152" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:114.3pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">33.5 (2005)</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="152" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:black 1pt solid;width:114.3pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Costa Rica</font></p>
</td>
<td width="160" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:119.7pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">1996</font></p>
</td>
<td width="160" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:119.7pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">40</font></p>
</td>
<td width="152" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:114.3pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">35.5 (2002)</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="152" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:black 1pt solid;width:114.3pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Belgium</font></p>
</td>
<td width="160" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:119.7pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">1994</font></p>
</td>
<td width="160" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:119.7pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">33</font></p>
</td>
<td width="152" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:114.3pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">3.3<span>   </span>(2003)</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="152" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:black 1pt solid;width:114.3pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Macedonia</font></p>
</td>
<td width="160" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:119.7pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">2002</font></p>
</td>
<td width="160" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:119.7pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">30</font></p>
</td>
<td width="152" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:114.3pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">18.3 (2002)</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="152" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:black 1pt solid;width:114.3pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Iraq</font></p>
</td>
<td width="160" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:119.7pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">2004</font></p>
</td>
<td width="160" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:119.7pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">1 for every 3</font></p>
</td>
<td width="152" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:114.3pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">31.0 (2005)</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="152" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:black 1pt solid;width:114.3pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Tanzania</font></p>
</td>
<td width="160" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:119.7pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;"><font size="3" face="Times New Roman"> </font></td>
<td width="160" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:119.7pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">20</font></p>
</td>
<td width="152" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:114.3pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">22.3 (2000)</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="152" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:black 1pt solid;width:114.3pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Philippines</font></p>
</td>
<td width="160" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:119.7pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">1995</font></p>
</td>
<td width="160" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:119.7pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">20</font></p>
</td>
<td width="152" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:114.3pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">17.8 (2001)</font></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="152" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:black 1pt solid;width:114.3pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Taiwan</font></p>
</td>
<td width="160" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:119.7pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">1997</font></p>
</td>
<td width="160" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:119.7pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">10-25</font></p>
</td>
<td width="152" vAlign="top" style="border-right:black 1pt solid;border-top:#ece9d8;border-left:#ece9d8;width:114.3pt;border-bottom:black 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;">
<p style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">22.2 (2001)</font></p>
</td>
</tr>
</table>
<p><span><font face="Times New Roman">Drude Dahlerup, Stockholm University” Defining Quotas”.available at: </font></span><a href="http://www.wedo.org/"><span><font face="Times New Roman">www.wedo.org</font></span></a><span></span><span><font face="Times New Roman">The key obstacles preventing women from becoming members of parliament in Indonesia are: (1) cultural context is heavily patriarchal, (2) the selection of candidates are elite-oriented and almost always men, (3) the media have yet to effectively mobilize support, (4) there is a conflict within NGOs and political parties toward this common goal, (5) poverty and low level of education of women, and (6) financial constraints that preclude women to enter the political arena. </font></span><span><font face="Times New Roman">In conclusion, the 30 % quota for women representation in Indonesia’s parliament needs a strong enforcing safeguard to ensure the continuity of the policy innovation in the process of strengthening democratization in Indonesia. Ultimately, more women in politics would lead to a more transparency; which would solidify democracy, tolerance, solidarity, and acceptance.</font></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman">Written by Luluk Nur Hamidah</font></span></p>
<p><span><font face="Times New Roman">Editor : ADMIN LBEL</font> </span><span><font face="Times New Roman"> </font></span><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/limabelasempatlima.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/limabelasempatlima.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/limabelasempatlima.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/limabelasempatlima.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/limabelasempatlima.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/limabelasempatlima.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/limabelasempatlima.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/limabelasempatlima.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/limabelasempatlima.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/limabelasempatlima.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/limabelasempatlima.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/limabelasempatlima.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=limabelasempatlima.wordpress.com&blog=1870170&post=19&subd=limabelasempatlima&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/27/quota-for-womens-30/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/550a1dc3b311f1c7f49f2fae333d0bd4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Kafka_pizechust</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Benazir Bhutto Tewas Tertembak</title>
		<link>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/27/pejuang-wanita-pakistan/</link>
		<comments>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/27/pejuang-wanita-pakistan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Dec 2007 21:04:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kafka_pizechust</dc:creator>
				<category><![CDATA[International]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/27/pejuang-wanita-pakistan/</guid>
		<description><![CDATA[
Pejuang Wanita di PAkistan : Benazir Bhutto Tewas
Saya siap untuk menanggung segala risiko. Tapi, saya tidak ingin menyerahkan negara kita yang besar ini kepada kelompok-kelompok militan, termasuk nyawanya terenggut, untuk memperbaiki demokrasi di Pakistan.&#8221;.
Itulah sedikit kata yang keluar dari lubuk hati paling dalam pejuang wanita di Pakistan Benazir Bhutto. Setelah terhindar dari ancaman bom pada  Kamis 18 -10 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=limabelasempatlima.wordpress.com&blog=1870170&post=17&subd=limabelasempatlima&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><a href="http://limabelasempatlima.files.wordpress.com/2007/12/_44116585_bhutto_afp203b.jpg" title="_44116585_bhutto_afp203b.jpg"><img src="http://limabelasempatlima.files.wordpress.com/2007/12/_44116585_bhutto_afp203b.thumbnail.jpg" alt="_44116585_bhutto_afp203b.jpg" /></a></strong></p>
<p><strong>Pejuang Wanita di PAkistan : Benazir Bhutto Tewas</strong></p>
<p><em>Saya siap untuk menanggung segala risiko. Tapi, saya tidak ingin menyerahkan negara kita yang besar ini kepada kelompok-kelompok militan, termasuk nyawanya terenggut, untuk memperbaiki demokrasi di Pakistan.&#8221;.</em></p>
<p>Itulah sedikit kata yang keluar dari lubuk hati paling dalam pejuang wanita di Pakistan Benazir Bhutto. Setelah terhindar dari ancaman bom pada  Kamis 18 -10 &#8211; 2007 yang menewaskan 138 orang. Kejadian tersebut terjadi di Karachi ketika para pendukung Benasir Bhutto berkumpul untuk menyambut kedatangannya setelah 8 tahun berada dipengasingan. Serangan tersebut diduga dilakukan oleh kelompok militan, seperti Al-Qaeda dan Taliban</p>
<p>Namun pada Kamis 27 Desember 2007 , petang. Untuk kali ini Benazir tak dapat lagi terhindar dari ancaman selalu menghantuinya. Benasir tewas di tembak oleh<span id="more-17"></span> seseorang tak dikenal yang kemudian melakukan bom bunuh diri. Pada saat itu Benasir baru saja melakukan kampanye untuk menjelang pemilu Januari 2008.</p>
<p>Dari kejadian tersebut diatas dapatlah kita lihat bahwa di Pakistan saat ini dalam keadaan darurat artinya demokrasi sudah mati, ketika seorang pejuang yang ingin meletakkan pondasi demokrasi yang baik namun di halang oleh orang-orang atau kelompok yang sama sekali merasa terancam. Bukankah dalam setiap persaingan itu dibutuhkan sikap yang sehat tanpa menimbulkan atau melakukan kejahatan.</p>
<p>Beberapa saat setelah kejadian ini, kondisi di Pakistan tidak kondusif lagi, kerusuhan mulai terjadi, penjarahan, dan bisa saja ini menjadi awal kerusahan yang berkepanjangan dan lagi-lagi akan membuat penderitaan bagi rakyat Pakistan.</p>
<p>Saat ini Pakistan menjadi pusat perhatian internasional dengan berkembangnya terorisme, dan juga menimbulkan krisis politik di PAkistan begitu juga di Asia Selatan.</p>
<p>Secara psikologis ini juga akan memberikan pengaruh pada calon pemilih pada Pemilu 2008, yang tinggal menghitung hari. Pemilih akan merasa terancam, bimbang akan situasi yang dihadpi.</p>
<p>Benasir Bhutto merupakan perdana menteri wanita pertama di dunia Muslim ketika ia terpilih pada 1988 pada usia 35 tahun. Ia dipecat pada 1990, terpilih kembali pada 1993, dan dipecat lagi pada 1996 di tengah tuduhan korupsi dan salah urus.</p>
<p>Kematian Benasir Bhutto menjadi tokoh wanita ke 2 yang tewas, setelah Indira Gandhi yang<span style="font-family:'Arial','sans-serif';"> ditembak pada pagi 31 Oktober 1984 saat berjalan-jalan di kebun di kediamannya di New Delhi. </span><br />
 </p>
<p>Momentum  Penting dalam karier Benasir Bhutto :</p>
<ul>
<li>
<div>4 April 1979 . Ayah Benazir, Zulfikar Ali Bhutto, dieksekusi dengan cara digantung.2 tahun setelah disingkirkan dari kursi PM PAkistan Mohammed Zia al-Had</div>
</li>
<li>
<div>10 April 1986. Benazir kembali dari pengasingan untuk memimpin Partai Rakyat Pakistan yang didirikan mendiang ayahnya.</div>
</li>
<li>
<div>1 Desember 1986. Menjadi PM wanita pertama di sebuah negara yang berpenduduk mayoritas Muslim</div>
</li>
<li>
<div>6 Agustus 1990. Pemerintahan Bhutto diberhentikan Presiden Pakistan, dengan tuduhan korupsi</div>
</li>
<li>
<div>19 Oktober 1993. Menjabat kembali sebagai PM untuk kedua kalinya.</div>
</li>
<li>
<div>5 November 1996. Kembali diberhentikan di tengah tudingan nepotisme.</div>
</li>
<li>
<div>11 April 1999. Pengadilan menyatakan bersalah atas dakwaan korupsi saat Benazir berada di luar negeri. Vonis itu belakangan dibatalkan.</div>
</li>
<li>
<div>5 Oktober 2007. Musharraf menandatangani amnesti korupsi, sehingga membuka peluang bagi Benazir untuk pulang ke Pakistan, dan kemungkinan menyepakati pembagian kekuasaan dengan Presiden Pakistan</div>
</li>
<li>
<div>18 Oktober 2007. Tiba di Karaxhi, mengakhiri delapan tahun pengasingannya di luar negeri.</div>
</li>
</ul>
<p><strong>Written by M. Iqbal </strong></p>
<p><strong>Editor : ADMIN LBEL</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/limabelasempatlima.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/limabelasempatlima.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/limabelasempatlima.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/limabelasempatlima.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/limabelasempatlima.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/limabelasempatlima.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/limabelasempatlima.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/limabelasempatlima.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/limabelasempatlima.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/limabelasempatlima.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/limabelasempatlima.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/limabelasempatlima.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=limabelasempatlima.wordpress.com&blog=1870170&post=17&subd=limabelasempatlima&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/27/pejuang-wanita-pakistan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/550a1dc3b311f1c7f49f2fae333d0bd4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Kafka_pizechust</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://limabelasempatlima.files.wordpress.com/2007/12/_44116585_bhutto_afp203b.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">_44116585_bhutto_afp203b.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Former Prime Minister of Pakistan</title>
		<link>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/27/former-prime-minister-of-pakistan/</link>
		<comments>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/27/former-prime-minister-of-pakistan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Dec 2007 20:24:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kafka_pizechust</dc:creator>
				<category><![CDATA[International]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/27/former-prime-minister-of-pakistan/</guid>
		<description><![CDATA[
PIONEER FOR DEMOCRACY
&#8220;I HAD faith in myself. I had always felt that I could become Prime Minister if I Wanted&#8221; 
Benazir Bhutto Date of birth: June 21, 1953
Date of death: December 27, 2007
  
Benazir Bhutto was born in Karachi, Pakistan to a prominent political family. At age 16 she left her homeland to study at Harvard&#8217;s Radcliffe [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=limabelasempatlima.wordpress.com&blog=1870170&post=15&subd=limabelasempatlima&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><a href="http://limabelasempatlima.files.wordpress.com/2007/12/pakistan_benazir_bhutto_prime_minister.jpg" title="Benazir Buttho"><img src="http://limabelasempatlima.files.wordpress.com/2007/12/pakistan_benazir_bhutto_prime_minister.thumbnail.jpg" alt="Benazir Buttho" /></a></strong></p>
<p><strong>PIONEER FOR DEMOCRACY</strong></p>
<p>&#8220;I HAD faith in myself. I had always felt that I could become Prime Minister if I Wanted&#8221; </p>
<p>Benazir Bhutto Date of birth: June 21, 1953<br />
Date of death: December 27, 2007<br />
  </p>
<p>Benazir Bhutto was born in Karachi, Pakistan to a prominent political family. At age 16 she left her homeland to study at Harvard&#8217;s Radcliffe College. After completing her undergraduate degree at Radcliffe she studied at England&#8217;s Oxford University, where she was awarded a second degree in 1977.</p>
<p>Later that year she returned to Pakistan where her father, Zulfikar Ali Bhutto, had been elected prime minister, but days after her arrival, the military seized power and her father was imprisoned. In 1979 he was hanged by the military government of<span id="more-15"></span> General Zia Ul Haq.</p>
<p>Bhutto herself was also arrested many times over the following years, and was detained for three years before being permitted to leave the country in 1984. She settled in London, but along with her two brothers, she founded an underground organization to resist the military dictatorship. When her brother died in 1985, she returned to Pakistan for his burial, and was again arrested for participating in anti-government rallies.</p>
<p>She returned to London after her release, and martial law was lifted in Pakistan at the end of the year. Anti-Zia demonstrations resumed and Benazir Bhutto returned to Pakistan in April 1986. The public response to her return was tumultuous, and she publicly called for the resignation of Zia Ul Haq, whose government had executed her father.</p>
<p>She was elected co-chairwoman of the Pakistan People&#8217;s Party (PPP) along with her mother, and when free elections were finally held in 1988, she herself became Prime Minister. At 35, she was one of the youngest chief executives in the world, and the first woman to serve as prime minister in an Islamic country.</p>
<p>Only two years into her first term, President Ghulam Ishaq Khan dismissed Bhutto from office. She initiated an anti-corruption campaign, and in 1993 was re-elected as Prime Minister. While in office, she brought electricity to the countryside and built schools all over the country. She made hunger, housing and health care her top priorities, and looked forward to continuing to modernize Pakistan.</p>
<p>At the same time, Bhutto faced constant opposition from the Islamic fundamentalist movement. Her brother Mir Murtaza, who had been estranged from Benazir since their father&#8217;s death, returned from abroad and leveled charges of corruption at Benazir&#8217;s husband, Asif Ali Zardari. Mir Murtaza died when his bodyguard became involved in a gunfight with police in Karachi. The Pakistani public was shocked by this turn of events and PPP supporters were divided over the charges against Zardari.</p>
<p>In 1996 President Leghari of Pakistan dismissed Benazir Bhutto from office, alleging mismanagement, and dissolved the National Assembly. A Bhutto re-election bid failed in 1997, and the next elected government, headed by the more conservative Nawaz Sharif, was overthrown by the military. Bhutto&#8217;s husband was imprisoned, and once again, she was forced to leave her homeland. For nine years, she and her children lived in exile in London, where she continued to advocate the restoration of democracy in Pakistan. In the autumn of 2007, in the face of death threats from radical Islamists, and the hostility of the government, she returned to her native country.</p>
<p>Although she was greeted by enthusiastic crowds, within hours of her arrival, her motorcade was attacked by a suicide bomber. She survived this first assassination attempt, although more than 100 bystanders died in the attack. With national elections scheduled for January 2008, her Pakistan People&#8217;s Party was poised for a victory that would make Bhutto prime minister once again. Only a few weeks before the election, the extremists struck again. After a campaign rally in Rawalpindi, a gunman fired at her car, fatally wounding her. The assassin then detonated a bomb, killing himself and a number of bystanders. Bhutto was rushed to the hospital, but soon succumbed to her wounds. In the wake of her death, rioting erupted throughout the country. The loss of the country&#8217;s most popular democratic leader has plunged Pakistan into turmoil, intensifying the dangerous instability of a nuclear-armed nation in a highly volatile region.</p>
<p>Source : <a href="http://www.achievement.org/">http://www.achievement.org</a></p>
<p>Editor : M. Iqbal</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/limabelasempatlima.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/limabelasempatlima.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/limabelasempatlima.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/limabelasempatlima.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/limabelasempatlima.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/limabelasempatlima.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/limabelasempatlima.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/limabelasempatlima.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/limabelasempatlima.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/limabelasempatlima.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/limabelasempatlima.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/limabelasempatlima.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=limabelasempatlima.wordpress.com&blog=1870170&post=15&subd=limabelasempatlima&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/27/former-prime-minister-of-pakistan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/550a1dc3b311f1c7f49f2fae333d0bd4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Kafka_pizechust</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://limabelasempatlima.files.wordpress.com/2007/12/pakistan_benazir_bhutto_prime_minister.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Benazir Buttho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ellie Wiesel</title>
		<link>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/18/11/</link>
		<comments>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/18/11/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 17:38:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kafka_pizechust</dc:creator>
				<category><![CDATA[The My Hero]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/18/11/</guid>
		<description><![CDATA[
Not many people know what a hero Elie Wiesel is, or even who he is, but he is a hero nonetheless. He was born in the small, close-knit Jewish town of Siget, Transylvania (now what is called Romania) on September 30, 1928. He had three siblings, all sisters, was raised an extremely religious Hasidic Jew, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=limabelasempatlima.wordpress.com&blog=1870170&post=11&subd=limabelasempatlima&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><font size="2" face="Arial"><a href="http://limabelasempatlima.files.wordpress.com/2007/12/elie-weisel.jpg" title="elie-weisel.jpg"><img src="http://limabelasempatlima.files.wordpress.com/2007/12/elie-weisel.thumbnail.jpg" alt="elie-weisel.jpg" /></a></font></p>
<p align="center"><font size="2" face="Arial">Not many people know what a hero Elie Wiesel is, or even who he is, but he is a hero nonetheless. He was born in the small, close-knit Jewish town of Siget, Transylvania (now what is called Romania) on September 30, 1928. He had three siblings, all sisters, was raised an extremely religious Hasidic Jew, and started his studies when he was a small child. His parents encouraged him with his Hebrew and religious studies as well as his secular studies.<br />
</font></p>
<p>Elie&#8217;s life changed tremendously in 1944, at the age of 15. At this time, the Nazis invaded his town and all of the Jews in the village were deported to concentration camps across Poland. He was separated from his mother and younger sister immediately and he has never seen them again. He managed to stay with his father for one year while they were worked nearly to death through starvation, exhaustion, cold weather with improper clothing, being shuttled in cattle cars, and being beaten regularly. But in the end, his father was murdered by the Nazis in Buchenwald. While living in France, years after his horrible experiences in Auschwitz, Bun, Buchenwald, and Gleiwitz, Elie learned that his two older sisters had survived.</p>
<p>In France, he studied philosophy and supported himself by becoming a choir master and teaching Hebrew. He also became a professional journalist. He did not talk about his war experiences for 10 years, and then he wrote a 900 page book called <em>Un die welt hot geshvign (And the World Kept Silent)</em>. Later, <span id="more-11"></span>he compressed this book into a 127 page book called <em>Night</em>.</p>
<p>Since then, he has written about 30 books and spoken out about the horrors of war. Wiesel has been honored with the Nobel Peace Prize, an appointment to the President&#8217;s Commission on the Holocaust, the Congressional Gold Medal of Achievement, and much more. Elie Wiesel makes it clear that we cannot forget the Holocaust, and that he never will. He honors those who have died and makes sure that none of them will ever be forgotten. He expresses his feelings through these quotes:</p>
<blockquote><p>“Let us remember, let us remember the heroes of Warsaw, the martyrs of Treblinka, the children of Auschwitz. They fought alone, they suffered alone, they lived alone, but they did not die alone, for something in all of us died with them.&#8221;“Sometimes we must interfere. When human lives are endangered, when human dignity is in jeopardy, national borders and sensitivities become irrelevant. Whenever men or women are persecuted because of their race, religion, or political views, that place must- at that moment- become the center of the universe.&#8221;</p>
<p>“There may be times when we are powerless to prevent injustice, but there must never be a time when we fail to protest.&#8221;</p>
<p>“I decided to devote my life to telling the story because I felt that having survived I owe something to the dead, and anyone who does not remember betrays them again.&#8221;</p>
<p>“That is my major preoccupation &#8211;memory, the kingdom of memory. I want to protect and enrich that kingdom, glorify that kingdom and serve it.&#8221;</p>
<p>“A destruction, an annihilation that only man can provoke, only man can prevent.&#8221;</p>
<p>“The opposite of love is not hate, it’s indifference. The opposite of art is not ugliness, it’s indifference. The opposite of faith is not heresy, it’s indifference. And the opposite of life is not death, it’s indifference.&#8221;</p>
<p>Two Quotes from Night:</p>
<ul>
<li>“Never shall I forget that night, the first night in camp, which has turned my life into one long night, seven times cursed and seven times sealed&#8230; Never shall I forget those moments which murdered my God and my soul and turned my dreams to dust. Never shall I forget these things, even if I am condemned to live as long as God Himself. Never.&#8221; Chapter 3, pg. 32</li>
<li>“I shall always remember that smile. From which world did it come?&#8221; Chapter 6, pg.86</li>
</ul>
<p>“Just as despair can come to one only from other human beings, hope, too, can be given to one only by other human beings.&#8221;</p>
<p>“A destruction, an annihilation that only man can provoke, only man can prevent.&#8221;</p>
<p>“I swore never to be silent whenever and wherever human beings endure suffering and humiliation. We must always take sides. Neutrality helps the oppressor, never the victim. Silence encourages the tormentor, never the tormented.&#8221;</p>
<p>Written by: Madison from Alpine </p></blockquote>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/limabelasempatlima.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/limabelasempatlima.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/limabelasempatlima.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/limabelasempatlima.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/limabelasempatlima.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/limabelasempatlima.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/limabelasempatlima.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/limabelasempatlima.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/limabelasempatlima.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/limabelasempatlima.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/limabelasempatlima.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/limabelasempatlima.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=limabelasempatlima.wordpress.com&blog=1870170&post=11&subd=limabelasempatlima&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/18/11/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/550a1dc3b311f1c7f49f2fae333d0bd4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Kafka_pizechust</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://limabelasempatlima.files.wordpress.com/2007/12/elie-weisel.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">elie-weisel.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pulang</title>
		<link>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/18/pulang/</link>
		<comments>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/18/pulang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 17:12:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kafka_pizechust</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/18/pulang/</guid>
		<description><![CDATA[Aku pulang. Kulewati koridor dan kuberbalik memandangi semua. Halaman rumah ayahku. Ada genangan air di tengah halaman itu. Perkakas tua tak terpakai, bergeletakan membentuk jalan menuju tangga. Kucing bermalas-malasan di teras. Kain yang dirobek terikat di tiang, berkibar ditiup angin. Aku datang. Siapa yang akan menyambutku? Siapa yang menunggu di belakang pintu dapur? Asap keluar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=limabelasempatlima.wordpress.com&blog=1870170&post=9&subd=limabelasempatlima&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Aku pulang. Kulewati koridor dan kuberbalik memandangi semua. Halaman rumah ayahku. Ada genangan air di tengah halaman itu. Perkakas tua tak terpakai, bergeletakan membentuk jalan menuju tangga. Kucing bermalas-malasan di teras. Kain yang dirobek terikat di tiang, berkibar ditiup angin. Aku datang. Siapa yang akan menyambutku? Siapa yang menunggu di belakang pintu dapur? Asap keluar dari cerobong, kopi untuk makan malam sedang dimasak.</p>
<p>Tidakkah aneh untukmu, apakah kau merasa ada di rumah? Aku tidak tahu<span id="more-9"></span>, aku sangat tidak yakin. Itu memang rumah ayahku, tapi bagian demi bagiannya terasa dingin, seakan masing-masing sibuk dengan kegiatannya sendiri, yang sebagian kulupakan, sebagian lagi tidak pernah kukenal. Apa yang bisa kulakukan untuk mereka, apa arti diriku untuk mereka, dan apakah aku memang anak ayahku, anak seorang petani tua itu? Dan aku tak bergerak mengetuk pintu dapur, hanya dari jauh aku patuh, hanya dari jauhlah aku berdiri patuh.</p>
<p>Tidak begitu tepatnya, aku mungkin terkejut karena menjadi orang yang patuh. Dan karena aku patuh dari tempat yang jauh, aku sebenarnya tidak mematuhi apapun. Aku hanya mendengar suara halus jam berdetik, atau aku hanya menduga mendengarnya, muncul dari hari-hari masa kecil. Apa lagi yang terjadi di dapur, itu adalah rahasia orang-orang yang duduk di sana, rahasia yang mereka simpan dariku. Semakin lama orang berdiri ragu di depan pintu, semakin merasa asinglah dia.</p>
<p>Apa yang akan terjadi jika sekarang seseorang membuka pintu dan bertanya sesuatu padaku. Tidakkah aku sendiri pun akan seperti dia, dia yang ingin menyimpan rahasianya. Bayreuth, 23.11.03 12:31 Diterjemahkan dari judul asli Heimkehr</p>
<p>Penulis : M.Iqbal </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/limabelasempatlima.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/limabelasempatlima.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/limabelasempatlima.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/limabelasempatlima.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/limabelasempatlima.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/limabelasempatlima.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/limabelasempatlima.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/limabelasempatlima.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/limabelasempatlima.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/limabelasempatlima.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/limabelasempatlima.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/limabelasempatlima.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=limabelasempatlima.wordpress.com&blog=1870170&post=9&subd=limabelasempatlima&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/18/pulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/550a1dc3b311f1c7f49f2fae333d0bd4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Kafka_pizechust</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Titik Nadir&#8230;!!! (Akhir dari awal)</title>
		<link>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/18/8/</link>
		<comments>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/18/8/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 17:09:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kafka_pizechust</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/18/8/</guid>
		<description><![CDATA[Searle di dalam bukunya Speech Acts : An Essay in The Philosophy of Language (1969,23-4 ) mengemukakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang mungkin diwujudkan oleh seorang penutur di dalam berbahasa, yakni tindakan untuk mengungkapkan sesuatu (locutionary act), tindakan melakukan sesuatu (ilocutionary act), tindakan mempengaruhi lawan bicara (perlocutionary act). Secara berturut-turut ketiga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=limabelasempatlima.wordpress.com&blog=1870170&post=8&subd=limabelasempatlima&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Searle di dalam bukunya Speech Acts : An Essay in The Philosophy of Language (1969,23-4 ) mengemukakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang mungkin diwujudkan oleh seorang penutur di dalam berbahasa, yakni tindakan untuk mengungkapkan sesuatu (locutionary act), tindakan melakukan sesuatu (ilocutionary act), tindakan mempengaruhi lawan bicara (perlocutionary act). Secara berturut-turut ketiga jenis tindakan ini disebut sebagai the act of saying something, the act of doing something, dan the act of affecting someone. Ini hanyalah sebuah tulisan biasa, silahkan untuk mengkategorikannya :   </p>
<p>Pergi tanpa mengilhami apa yang ada pada dirinya, hingga meninggalkan begitu banyak permasalahan pada semua orang yang pernah dekat dekatnya.</p>
<p>Mengakui kesalahan, itulah citra terbaik dalam kehidupan. Namun <span id="more-8"></span>pengakuan kesalahan tanpa pemaknaan itupun tak dapat memberikan makna yang baik.</p>
<p>Ketika seluruh jiwa telah terlumuri oleh bibit-bibit kemunafikan yang berkembangbiak dengan begitu cepatnya. Melancarkan tingkah laku sebagai mana sifat dari bibit itu. Bibit itu telah berkembangbiak begitu lama dalam diri, namun terkadang mengalami pasang surut. Apakah ada obat yang terbaik untuk mematikan bibit tersebut ?. Jawaban itu hanya ada dalam diri sendiri, begitu jauh bertanya tanpa menyadari dalam jiwa itu semua telah ada dan itu sudah disiapkan oleh Maha  Pencipta.</p>
<p>Kehormatan, kejujuran, kebohongan,kegengsian, kebanggaan, kepemilikan dengan paksaan dan entah apa lagi yang dimulainya dengan KE- AN. Sifat ini semua  yang membawa dan menyebabkan manusia mencapai titik terendah dalam hidup.</p>
<p>Disaat manusia keluar dari gerbang yang telah di desain dan proses pembentukannya oleh Maha Pencipta.<br />
Begitu bahagianya manusia yang membawahinya sebagai petunjuk jalan untuk keluar dari gerbang itu. Suara rintihan, kegembiraan  diteriakkan dengan indah, kebahagian itu membawa kesadaran pada diri  apa yang harus dilakukan dalam menuntunnya setelah keluar dari gerbang tersebut.</p>
<p>Kedua tangan manusia telah bergerak, demikian juga dengan jemari-jemari tangan mengembang tanpa tersadarkan bahwa impian ,harapan, apa yang menjadi takdir,yang telah digariskan oleh Sang Widhi itu telah terbang, terlepas. Dan itu merupakan awal kehidupannya .Dalam masyarakat umum, agama, banyak persepsi atau pandangan yang dibarengi dengan pernyataan tradisi kedaerahan  , manusia yang baru keluar dari rahim ibunya, dan disaat itu pula rumusan, catatan (takdir) akan dirinya telah tercipta juga.Sebagai tambahan,pernah juga terdengar dari mulut teman lama bahwa ada 99 kunci yang terbang dan itu harus ditemukan lagi oleh manusia. Entah apa yang dimaksud, sudah terlupakan olehnya .</p>
<p>Waktu yang berjalan dengan indahnya, membawa manusia kedalam proses perkembangan. Suara yang berupa tangis,kegembiraan, akhirnya berubah menjadi pengungkapan dengan perkataan-perkataan. Ini juga akan berkembang, dan dapat menjerumuskan ke daerah kekalahan bila tidak dapat menjaganya dari lidah yang mengoyak perbedaan perkataan nurani.</p>
<p>Dimulai dari sikap telentang, tengkurap duduk,  akhirnya dapat berdiri dan berjalan. Langkah-langkah ini menjadi awal yang nantinya membuat manusia memilih dimana tempat yang akan dan ingin dilaluinya. Setidaknya dan pasti telah memilih jalan yang terbaik, adapun kesalahan dalam memilih jalan merupakan warna namun bila terus menerus terulang bukanlah warna yang indah,malah menjadi buram.. tanpa ada nilai-nilai yang termaknai.</p>
<p>10 tahun waktu telah dilalui, bermacam-macam keadaaan entah itu kegembiraan, kesedihan, kasih sayang, namun di waktu yang seperti ini hanya memberikan basic untuk kedepannya. Namun bagi dirinya,entah karena proses didikan yang salah atau perangainya. Perkembangannya lebih banyak kesedihan yang berupa pertentangan. Siapa yang harus disalahkan?. Apakah orang yang waktu itu menuntunnya kegerbang yang harus disalahkan atau Sang Pencipta sendiri.<br />
 <br />
Ini sudah dijelaskan, pengulangan ; kesalahan itu merupakan warna, dan nantinya akan mengajak untuk melukis dengan warna tersebut, objek apa yang ingin difokuskan.</p>
<p>Tingkah lakunya yang cerdik, pintar meskipun pemahaman yang kurang, membawa kebanggaan tersendiri pada manusia penuntun.</p>
<p>Tanpa terasa waktu  19 tahun telah datang menghampiri, dikumpulkannya berbagai macam tingkah laku yang telah dilakukan semenjak keluar dari gerbang hingga waktu saat ini. Dimulai dengan mengkategorikannya. Kebaikan pada orang lain; Keburukan pada orang lain; Amal pada orang lain; Perintah pada Sang Widhi; Kebohongan pada orang lain, Kemunafikan pada orang lain. Raut muka keterkejutan, terkejut dan terkejut. Begitu jauh perbandingan dengan dilakukannya pengkategorian tersebut. Dan membuat kesedihan: Kenapa bisa keburukan begitu banyak dibandingkan kebaikan,kenapa bisa keburukan lebih banyak dibanding kebaikan, kenapa bisa kebohongan lebih banyak dari pada kebaikan, kenapa bisa kemunafikan lebih banyak daripada kebaikan, dan kenapa bisa perintah dari Sang Widhi tidak dilaksanakan lebih banyak daripada kebaikan.</p>
<p>Dengan keadaan seperti ini membuat manusia berputus asa, apalagi dengan waktu yang masih awal. Jangan awalan itu dijadikan akhir.</p>
<p>Berbaliklah kembali pada penuntun, di kala waktu penuntun mengantarkan keluar dari gerbang itu. Tanyakan pada-nya mengapa bisa terjadi seperti ini.</p>
<p>To be continued&#8230;.!!!!</p>
<p>Penulis : M. Iqbal    </p>
<p>Referensiku<br />
  Wijaya, I Dewa Putu.2004<br />
  Kartun: Studi tentang permainan Bahasa, Jakarta :Ombak <br />
  Koesalah Soebagyo Toer.2006<br />
  Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali, Jakarta :KPG</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/limabelasempatlima.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/limabelasempatlima.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/limabelasempatlima.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/limabelasempatlima.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/limabelasempatlima.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/limabelasempatlima.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/limabelasempatlima.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/limabelasempatlima.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/limabelasempatlima.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/limabelasempatlima.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/limabelasempatlima.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/limabelasempatlima.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=limabelasempatlima.wordpress.com&blog=1870170&post=8&subd=limabelasempatlima&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/18/8/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/550a1dc3b311f1c7f49f2fae333d0bd4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Kafka_pizechust</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hening</title>
		<link>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/18/hening/</link>
		<comments>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/18/hening/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 17:02:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kafka_pizechust</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/18/hening/</guid>
		<description><![CDATA[Tak satu pun lentera menyala saat aku membaca/ selintas suara bergumam, “segala sesuatu jatuh ke dalam kebekuan yang mencekam”/ bahkan melon atau pir dari taman tak berdaun. Sebait puisi karya penyair Wallace Stevens itu mengingatkan kita untuk selalu eling lan waspodo/ makatutu, ingat dan sadar, pada segurat keheningan yang senantiasa membayangi cakrawala pengetahuan. Segurat keheningan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=limabelasempatlima.wordpress.com&blog=1870170&post=7&subd=limabelasempatlima&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tak satu pun lentera menyala saat aku membaca/ selintas suara bergumam, “segala sesuatu jatuh ke dalam kebekuan yang mencekam”/ bahkan melon atau pir dari taman tak berdaun. Sebait puisi karya penyair Wallace Stevens itu mengingatkan kita untuk selalu eling lan waspodo/ makatutu, ingat dan sadar, pada segurat keheningan yang senantiasa membayangi cakrawala pengetahuan. Segurat keheningan yang senantiasa membujuk kita memainkan nalar secara puitis.</p>
<p>Pada masa yang mulai melupakan apakah ini, ingat dan sadar akan “yang hening” dan “yang lain” sungguh menjanjikan sejumput cahaya. Cahaya yang <span id="more-7"></span>telah lama redup dalam sepak terjang sains, teologi, dan filsafat. Nalar yang digunakan tak lagi mencukupi untuk membuat puisi baru. Yang berlaku semata-mata daur ulang gramatika ilmiah, teologis, atau filosofis yang mulai menua dan membosankan. Saatnya bagi sains, teologi, dan filsafat untuk berhening sejenak. Melepaskan diri dari keramaian jawaban dan mulai belajar mengajukan pertanyaan. Singkat kata, belajar merangkul kembali “kelainan” yang hilang.</p>
<p>Keheningan dan kelainan berbeda dengan kesepian. Kita hidup dalam semesta yang menyimpan seribu gramatika pembuka rahasia. Nalar yang sadar akan multiplisitas ini tak akan berhenti pada satu sedimentasi sejarah. Melainkan, senantiasa bergulat mencari kunci-kunci pembuka tanah tak berjejak yang tertimbun sejarah. Para sahabat yang melontarkan kritik pada tulisan saya, Tanah Tak Berjejak Para Penyair, sungguh tahu bagaimana memainkan nalar secara puitis. Mereka membuka dimensi-dimensi yang saya sendiri tak menyadarinya sebelum ini. Mereka membaca sebuah gramatika baru dalam embrio pemikiran. Pembacaan yang membuat saya kembali berkhidmat pada “yang lain” dan “yang hening”.</p>
<p>Penulis : Donny Gahral Adian</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/limabelasempatlima.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/limabelasempatlima.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/limabelasempatlima.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/limabelasempatlima.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/limabelasempatlima.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/limabelasempatlima.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/limabelasempatlima.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/limabelasempatlima.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/limabelasempatlima.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/limabelasempatlima.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/limabelasempatlima.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/limabelasempatlima.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=limabelasempatlima.wordpress.com&blog=1870170&post=7&subd=limabelasempatlima&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/18/hening/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/550a1dc3b311f1c7f49f2fae333d0bd4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Kafka_pizechust</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Metamorphosis</title>
		<link>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/18/the-metamorphosis/</link>
		<comments>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/18/the-metamorphosis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2007 16:54:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kafka_pizechust</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poetry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/18/the-metamorphosis/</guid>
		<description><![CDATA[Tidak sedikit orang yang ingin menjadi orang lain saat bangun tidur di pagi hari. Sayangnya, seorang salesman keliling bernama Gregor Samsa tidak bisa memilih ingin berubah menjadi siapa. Atau apa. Ia mendapati dirinya berubah menjadi kutu raksasa di pagi hari. Malangnya, kedua orang tua dan Grete, adik perempuan Gregor, menggantungkan hidup mereka pada Gregor.
Terbiasa selalu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=limabelasempatlima.wordpress.com&blog=1870170&post=6&subd=limabelasempatlima&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span class="fullpost">Tidak sedikit orang yang ingin menjadi orang lain saat bangun tidur di pagi hari. Sayangnya, seorang salesman keliling bernama Gregor Samsa tidak bisa memilih ingin berubah menjadi siapa. Atau apa. Ia mendapati dirinya berubah menjadi kutu raksasa di pagi hari. Malangnya, kedua orang tua dan Grete, adik perempuan Gregor, menggantungkan hidup mereka pada Gregor.<br />
Terbiasa selalu berpindah karena tuntutan pekerjaan, Gregor merasa tersiksa dengan wujudnya sebagai kutu. Ia yang hampir selalu terbangun di tempat asing, kini ia tidak bisa bekerja menghidupi keluarganya, tidak mampu menjajaki tingkat karir yang lebih tinggi dan tidak mungkin bersosialisasi. Bahkan keluarganya sendiri tidak sanggup menatap sosoknya.<br />
Ayah Gregor, yang sempat gagal berbisnis, mulai bekerja kembali agar makanan <span id="more-6"></span>tetap terhidang dia atas meja. Grete yang berusia remaja juga terpaksa mencari nafkah. Gregor sedih karena sebenarnya ia sedang mengumpulkan uang agar adiknya bisa belajar di sekolah musik. Ia sudah membayangkan kebahagiaan adiknya saat ia memberikan uang tabungannya sebagai biaya sekolah musik. Ibu Gregor yang kondisi fisiknya lemah dilarang oleh keluarganya menengok keadaan putranya.<br />
Keadaan berbalik sedemikian rupa. Jika sebelumnya keluarga Gregor hidup seperi parasit pada Gregor, kini Gregorlah yang beralih menjadi parasit dalam keluarga. Jasa Gregor menghidupi keluarga selama bertahun-tahun begitu cepat terlupakan. Grete berusaha tetap loyal memberikan makanan dan membersihkan kamar Gregor. Namun lama kelamaan ia tidak tahan. Gregor tampak menjijikkan dan mulai menyukai makanan sisa. Baunya pun tak sedap.<br />
Kisah Gregor dalam The Metamorphosis (Die Verwandlung dalam bahasa Jerman), sebuah novella karya Franz Kafka menjadi populer. Pertama kali diterbitkan pada 1915 dan merupakan karyanya yang paling terkenal bersama dengan The Trial dan The Castle. The Metamorphosis dianggap sebagai kisah simbolik tinggi dengan berbagai interpretasi.<br />
Menjadi makhluk seperti apa si Gregor ini pun menjadi perdebatan. Ada versi yang mengatakan serangga, kecoa, bahkan kutu. Kafka sendiri tidak ingin ada penggambaran jelas untuk hal tersebut. Pada 25 Oktober 1915 ia menulis surat pada penerbitnya sehubungan dengan ilustrasi sampul buku edisi pertama. Kafka mengatakan bahwa makhluk tersebut tidak untuk digambar, bahkan tidak untuk dilihat dari jauh. Kafka hanya ingin menyampaikan kejijikan Gregor melihat perubahan dirinya.<br />
Vladimir Nabokov, entomolog, penulis dan kritikus sastra, berkeras mengatakan bahwa Gregor bukanlah kecoa, melainkan seekor kumbang dengan sayap di balik kulitnya. Bisa terbang, jika saja Gregor mengetahuinya. Nabokov bahkan meninggalkan sketsa yang dibubuhi keterangan â€œpanjangnya hanya sekitar 3 kakiâ€ pada halaman pembuka bahan mengajarnya dalam bahasa Inggris yang sarat dengan koreksi.<br />
Yang pasti, Kafka mampu bertutur lewat kacamata Gregor yang manusia dan berangsur berubah menjadi bukan manusia. Bagaimana selera dan pilihan makan Gregor berubah sampai cara menggerakkan dan menggunakan tubuh barunya (yang berkaki banyak dan berlendir).<br />
Kafka menggambarkan kesendirian Gregor yang awalnya tidak menjadi masalah karena ia masih berguna bagi keluarga dan tidak mengganggu manusia manapun. Ketika ia berubah, ia dianggap sebagai ancaman. Ancaman ketentraman keluarganya, menjadi ketakutan bagi masyarakat sehingga harus disembunyikan. Gregor tidak lagi berguna. Ia telah mati sebagai manusia. Terkurung, tidak bisa pergi ke manapun, membuat orang lain takut dan jijik melihatnya.<br />
Gregor tidak bisa berkomunikasi dengan siapapun dalam wujudnya sebagai kutu. Grete hanya bisa mengira-ngira apa yang disukai Gregor dari sisa makanan yang diletakkan di dalam kamar. Seiring dengan kesibukannya yang bertambah, ia tidak lagi terlalu peduli pada Gregor.<br />
Pria yang telah menjadi kutu raksasa ini kemudian kehilangan harapan dan tidak lagi melihat fungsinya jika tetap hidup. Kegiatan Gregor terbatas pada melihat keluar jendela dan merayap di langit-langit dan dinding kamar. Ia merasa menjadi beban saja. Aib bagi keluarga. Keluarga yang ia sayangi namun berbalik kehilangan perasaan apapun pada dirinya karena menganggap dirinya bukanlah Gregor lagi dalam wujudnya yang sekarang.<br />
Grete mengatakan pada kedua orang tuanya jika kutu raksasa itu Gregor, tentu ia akan pergi karena mencintai keluarganya dan mengambil beban mengurus makhluk itu dari pundak keluarganya. Ironis. Kafka menggambarkan betapa egois manusia, bahkan keluarga kandung sendiri. Begitu cepat melupakan jasa Gregor selama ini. Tidak berterima kasih. Tidak pernah merasa menjadi parasit-parasit dalam hidup Gregor.<br />
Popularitas Kafka dan novellanya ini tersebar ke berbagai hal. Nama Gregor Samsa dan Franz Kafka disebut di mana-mana. Menjadi istilah untuk metamorfosis dan perasaan seperti serangga. Teater, film, animasi, lagu, band di seluruh dunia terpengaruh dan menggunakan nama novella tersebut, tokoh cerita, bahkan nama penulisnya. Contohnya, ilustrasi cover album band Rolling Stone yang bertajuk Metamorphosis menggambarkan setiap anggota band mengintip dari balik topeng-topeng wajah serangga yang mereka kenakan.<br />
Foresight Unlimited milik Mark Damon telah merencanakan adaptasi Metamorphosis karya Franz Kafka senilai $ 9 juta yang dibintangi Daniel Bruhl sebagai Franz Kafka, Anna Paquin, dan Stephen Rea. Limor Diamant menulis dan akan menyutradarai Metamorphosis yang menenun kisah pria yang berubah menjadi serangga raksasa paralel dengan proses penulisan Kafka yang mematahkan hati. Ram Bergman memproduseri adaptasi ini dan syuting di Eropa telah diset untuk musim panas 2007.<br />
Dalam menulis, Kafka terpengaruh Soren Kierkegaard, Fyodor Dostoevsky, Charles Dickens dan Friedrich Nietzche. Sedangkan penulis-penulis yang terpengaruh oleh Kafka ialah Albert Camus, Federico Fellini, Isaac Bashevis Singer, Jorge Luis Borges, Gabriel Garcia Marquez, Carlos Fuentes, Salman Rushdie dan Haruki Murakami.<br />
Kafka (3 Juli 1883-3 Juni 1924) semasa hidupnya pernah bekerja sebagai petugas asuransi dan manajer pabrik di samping sebagai novelis dan penulis cerpen. Penulis berkebangsaan Austria-Hongaria ini bergerak di aliran sastra modernisme, eksistensialisme, surealisme, dan menjadi pelopor realisme magis. Kafka dikenal sering tidak menyelesaikan tulisannya. The Metamorphosis adalah karyanya yang dianggap selesai ditulisnya.</span></p>
<p><span class="fullpost"></span></p>
<p align="justify">Olivia Kristina</p>
<p><span class="fullpost">Rujukan : <a href="http://www.ruangbaca.com/"><font color="#5588aa">http://www.ruangbaca.com/</font></a></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/limabelasempatlima.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/limabelasempatlima.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/limabelasempatlima.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/limabelasempatlima.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/limabelasempatlima.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/limabelasempatlima.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/limabelasempatlima.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/limabelasempatlima.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/limabelasempatlima.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/limabelasempatlima.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/limabelasempatlima.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/limabelasempatlima.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=limabelasempatlima.wordpress.com&blog=1870170&post=6&subd=limabelasempatlima&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://limabelasempatlima.wordpress.com/2007/12/18/the-metamorphosis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/550a1dc3b311f1c7f49f2fae333d0bd4?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Kafka_pizechust</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>